Penulis : Ponco | Editor : Lina F | Foto : Kemenhan
Jakarta, GPriority.co.id – Jika tidak ada aral melintang, 10 hingga 15 tahun mendatang kekuatan udara Indonesia dipastikan superior di kawasan Asia Tenggara layaknya kekuatan udara pada era 1960 dimana TNI AU memiliki pesawat tempur berbagai jenis dan fungsi dari blok timur atau Uni Soviet. Jelang berakhirnya kabinet Indonesia Maju pada 2024, Pemerintah Indonesia melalui Kemenhan telah menerima berbagai alat utama sistem senjata (alutsista) matra udara serta menandatangani pengadaan beragam alutsista matra udara. Berikut adalah alutsista matra udara yang telah dan akan diterima Indonesia kelak.
C130J Super Hercules
Pemerintah memesan 5 unit pesawat angkut berat C130J Super Hercules. Pada tahun ini pesawat tersebut berdatangan. Tercatat sudah 3 unit C130J Super Hercules tiba di tanah air. Adapun untuk pesawat yang keempat dan kelima akan tiba pada bulan Oktober 2023 dan bulan Januari 2024 mendatang. Pesawat-pesawat tersebut akan dioperasionalkan di Skadron Udara 31, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kelima pesawat akan melaksanakan tugas-tugas TNI AU dalam mendukung angkutan udara, baik untuk misi Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
C130J Super Hercules merupakan buatan Locheed Martin, Amerika dengan kemampuan membawa beban maksimal hingga hampir 20.000 kilogram. Dimensi pesawat ini memang lebih besar dibandingkan Hercules tipe H milik TNI AU. Detailnya panjang 34,69 meter, tinggi 11,9 meter, dan lebar sayap 39,7 meter.
Sementara kecepatan maksimal pesawat adalah 660 kilometer per jam di ketinggian 6.706 meter. Adapun flight station-nya lebih canggih dan sistem avionik digital terintegrasi penuh. Termasuk navigasi canggih yang mencakup sistem navigasi inersia ganda dan GPS dimiliki C130J Super Hercules.
A400M
Pesawat angkut berat lainnya yang segera dimiliki Indonesia ialah Airbus A400M. Pemerinta telah memesan 2 unit A400M pada 2021 dan baru akan selesai diproduksi dan tiba di Indonesia dalam beberapa tahun lagi. A400M merupakan pesawat tangker dan angkut dengan ukuran lebih besar dibanding Super Hercules C-130J. Pesawat ini diketahui merupakan pesawat canggih yang mampu membawa muatan hingga 37 ton. Seperti C130J Super Hercules, A400M juga digunakan untuk operasi pertahanan dan operasi kemanusian.
Keunggulan A400M ialah, mampu beroperasi dari landasan pacu yang kasar dan pendek. Hal ini dibuktikan saat distribusi bantuan ke Palu, Sulawesi Tengah saat dilanda gempa. Kontrak pembelian A400M Indonesia dengan Airbus dilakukan saat Dubai Airs Show 2021. Perjanjian tersebut mencakup paket dukungan pemeliharaan dan pelatihan lengkap. Kontrak tersebut juga mencakup pembelian empat pesawat A400M tambahan pada masa depan. Sehingga total nantinya TNI AU akan mengoperasikan enam unit A400M. Indonesia sendiri merupakan negara ke-10 yang akan menggunakan A400M.
Mirage 2000-5
Selain pesawat angkut, pemerintah juga memborong jet tempur untuk menggantikan jet tempur TNI AU yang menua dan peremajaan (upgrade/refurbish) serta perbaikan (overhaul/repair). Seperti diketahui, saat ini beberapa jet tempur TNI AU semisal SU-27/30, Hawk 100/200, dan F-16 dalam proses upgrade/refurbish dan overhaul/repair. Kondisi itu membuat TNI Angkatan Udara membutuhkan pesawat tempur yang siap pakai selama periode perbaikan beberapa pesawat tersebut.
Karena itu Kemenhan memutuskan membeli 12 unit pesawat tempur Mirage 2000-5. Pembelian ini juga dimaksudkan untuk transfer teknologi bagi pilot-pilot TNI AU sebelum nantinya mereka menggunakan pesawat tempur baru Dassault Rafale. Pasalnya Mirage 2000-5 dan Dassault Rafale mempunyai teknologi kompatibel mengingat keduanya dibuat oleh perusahaan yang sama, yaitu Dassault Aviation dari Prancis.
Ke 12 unit Mirage 2000-5 ini merupakan pesawat tempur bekas dari Angkatan Udara Qatar. Indonesia membelinya bersama perangkat pendukungnya. Jam terbang jet tempur tersebut dipercaya masih relatif rendah. Tim pemeriksa dari TNI AU menyebut usia pakai Mirage 2000-5 itu masih di atas 10 – 15 tahun karena usia pesawat itu rata-rata 30 tahun.
Pemerintah sendiri akan menempatkan jet tempur ini pada Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Ke 12 unit Mirage 2000-5 itu sendiri akan dikirim ke Indonesia sekitar 24 bulan setelah kontrak efektif. Menurut Menhan Prabowo negara sebesar dan seluas Indonesia harus memiliki pertahanan udara yang kuat.
Rafale
Kemenhan membeli 42 jet tempur Rafale produksi Dassault Aviation, Prancis. Pembayaran tahap pertama sebanyak 6 unit Rafale telah dilunasi pada September 2022. Menyusul kemudian pembayaran kontrak tahap kedua sebanyak 18 unit jet Rafale. Secara total, sudah 24 unit Rafale terbayarkan. Kontrak Rafale untuk Indonesia sendiri termasuk dukungan latihan persenjataan dan simulator-simulator yang dibutuhkan. Pesawat generasi 4,5 itu diproyeksikan bisa memperkuat TNI AU pada medio 2026.
Rafale dikenal sebagai jet tempur yang mampu digunakan untuk pertempuran udara jarak dekat, serangan mendalam, pengintaian, serangan anti-kapal dan pencegahan nuklir. Pesawat serbaguna ini juga mampu membawa muatan lebih dari 9 ton.
Jarak radius tempurnya mencapai 1.850 km dengan daya jelajahnya 3.700 km. Bekal persenjataannya seperti rudal udara ASRAAM dan AMRAAM, rudal darat Apache, serta rudal anti kapal Exocet/AM39, HARM, ALARM, Maverick, AS30L, Penguin 3, Sidewinder, Harpoon dan MICA. Rafale dilengkapi pula dengan sistem Thales RBE2 berjenis passive electronically scanned array (PESA). Adapun radarnya berjenis active electronically scanned array (AESA) yang memiliki kemampuan deteksi hingga 200 km. Bermesin Snecma M88, Rafale juga dilengkapi sistem bantuan pertahanan yang terintegrasi bernama Spectra.
F15EX
Negara sebesar dan seluas Indonesia memang membutuhkan jet tempur dalam jumlah banyak untuk menjaga wilayahnya. Atas dasar itu, setelah pengadaan jet tempur Rafale pemerintah merasa perlu menghadirkan jet tempur F15EX buatan Boeing, Amerika Serikat (AS). Pada 21 Agustus lalu Indonesia pun menandatangani MoU komitmen pembelian 24 unit F-15EX di pabrikan Boeing, St Louis, Missouri, AS.
F-15EX merupakan versi paling mutakhir dari pesawat F-15 yang pernah dibuat, dengan fitur kontrol penerbangan digital fly-by-wire, sistem peperangan elektronik, kokpit kaca digital, serta sistem misi dan kemampuan perangkat lunak terkini. Daya muatnya juga ebih besar sampai 13.380 kilogram, yang memungkinkan pesawat tersebut memuat lebih banyak senjata daripada versi sebelumnya. Disamping itu F-15 EX pun memiliki struktur pesawat yang kuat sehingga memiliki umur layanan hingga 20.000 jam terbang.
Untuk persenjataan F-15EX dapat membawa berbagai jenis senjata, mulai dari rudal udara ke udara, bom, hingga senjata khusus lainnya. Jet tempur ini juga dapat dioperasikan dalam berbagai misi, seperti superioritas udara, serangan darat, hingga operasi maritim. Khusus untuk Indonesia, Boeing memberikan label F-15IDN.
S-70M Black Hawk
Tak lama diumumkan pembelian F -15EX, Kemenhan juga mengumumkan telah menandatangani perjanjian industri pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terkait pengadaan 24 helikopter Sikorsky S-70M Black Hawk di fasilitas Lockheed Martin, Washington, AS.
S-70M Black Hawk ialah helikopter utilitas yang dapat diandalkan bagi negara-negara yang mengoperasikannya di seluruh dunia. Dilansir Kemenhan helikopter ini memiliki fleksibilitas multi-misi yang tak tertandingi dan sertifikat keamanan militer, mampu beroperasi dalam kondisi cuaca ekstrem baik siang maupun malam, termasuk transportasi pasukan, evakuasi medis, pemadam kebakaran, pencarian dan penyelamatan, dan lain sebagainya.
S-70M mempunyai Daya angkut Heli berkapasitas 10,350 lbs (4,695 kg), serta daya angkut eksternal sebesar 9,000 lbs (4,082 kg). Kabinnya berukuran 11,2 m3 / 396 kaki dengan tempat duduk eksekutif dan komunikasi untuk transportasi yang nyaman, aman, terjamin, untuk angkut personel dan VIP atau Kepala Negara, serta dilengkapi dengan standar keamanan pilot yang cukup ketat. Rencananya S-70M kelak digunakan TNI-AD.
Drone Anka
Selain memesan pesawat dan helikopter berawak, pemerintah Indonesia juga membeli pesawat nirawak atau drone bernama Anka dari Turki. Turki selama ini dikenal dikenal negara penghasil drone yang battle proven di medan laga perang Armenia dan Ukraina. Sebanyak 12 drone Anka dibeli Kemenhan dari Turkish Aerospace Industries (TAI).
Anka merupakan varian produksi kendaraan udara tak berawak (UAV) medium-altitude, long-endurance (MALE). Drone ini memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai misi. Contohnya real time intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR), communication relay dan target acquisition and tracking.
Drone ini dapat pula dilengkapi dengan beberapa jenis senjata. Adapun konfigurasi perangkat dan senjata yang bisa dipasang di dalam drone tersebut, antara lain EO/IR SATCOM+Radio Relay, EO/IR+SATCOM + Laser Guided Smart Bombs and Missiles, EO/IR+SATCOM+SAR/ISAR/GMTI+AIS dan EO/IR+COMINT/DF+ESM/ELINT. Dari 12 unit yang dibeli, Kemenhan akan membaginya untuk tiga matra TNI. Diantaranya enam untuk TNI AU, tiga untuk TNI AD dan tiga untuk TNI AL.
