Shell Jual Seluruh SPBU di Indonesia, Bahlil Buka Suara

Shell Jual Seluruh SPBU di Indonesia, Bahlil Buka Suara Shell Jual Seluruh SPBU di Indonesia, Bahlil Buka Suara

Jakarta, GPriority.co.id – Shell resmi menjual seluruh bisnis SPBU di Indonesia, kepada Citadel Pacific asal Filipina dan Sefas Group asal Indonesia.

Kesepakatan ini mencakup SPBU, pasokan, dan distribusi, tetapi merek Shell akan tetap digunakan berdasarkan lisensi. Langkah ini sejalan dengan strategi global Shell untuk merampingkan operasi dan fokus pada transisi energi. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Bahlil Lahadalia, penjualan tersebut merupakan keputusan bisnis yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.

“Ya itu kan aksi korporasi biasa. Jadi karena mereka bukan BUMN, maka kita harus menghargai hak setiap perusahaan swasta yang melakukan aksi korporasi,” ujar Bahlil.

Sementara itu, Citadel Pacific telah mengelola SPBU Shell di Filipina, sementara Sefas Group bergerak di bidang logistik energi Indonesia. Bersama-sama, mereka berencana untuk mengembangkan bisnis dan menjaga kualitas layanan di seluruh negeri.

Kendati kepemilikan berganti, merek Shell akan tetap digunakan melalui perjanjian lisensi. Produk BBM pun dipastikan masih akan dipasok oleh Shell, dan pelanggan tetap dapat mengakses layanan serta produk berkualitas seperti sebelumnya.

Sebagai informasi, Shell memiliki sekitar 200 SPBU di Indonesia, dan tim operasional yang melayani pelanggan juga tidak akan berubah. Citadel Pacific dan Sefas Group sendiri telah berpengalaman di sektor energi dan distribusi Shell di kawasan Asia-Pasifik.

Sebelumnya, SPBU Shell menjadi salah satu SPBU di Indonesia yang ramai digunakan usai kasus ‘Pertamax Oplosan’. Fenomena tersebut terjadi usai viral kasus dugaan penjualan bahan bakar secara oplosan oleh oknum di Pertamina. Berdasarkan video yang beredar di media sosial, terlihat banyak pemilik kendaraan beralih ke SPBU swasta. Salah satunya Shell.

Fenomena tersebut juga memicu reaksi warganet yang mengaku kecewa dengan kualitas BBM Pertamina. Mereka juga lebih memilih antre di SPBU swasta yang dianggap lebih terpercaya.

Kronologi kasus ini bermula dari dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang di Pertamina pada periode 2018-2023. Kasus ini pun menyeret nama Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan.

Riva diduga membeli BBM Ron 90 dengan harga Ron 92, lalu mencampurnya agar sesuai dengan spesifikasi Ron 92. Hal tersebut menyebabkan potensi kerugian negara hingga ratusan triliun rupiah.

Sementara itu, pihak Kejaksaan Agung mengungkapkan jika praktik ini dilakukan melalui proses blending di storage atau depo, sebelum akhirnya didistribusikan ke masyarakat.

Foto : Ilustrasi Dok. Getty Images