Jakarta, GPriority.co.id – Pada bulan Maret 2025 lalu, pasar pinjaman online LendingTree melakukan survei terkait pernikahan. Dalam survei tersebut, ada lebih dari 1.000 pengantin Amerika Serikat yang terlibat.
Dari survei tersebut, 2/3 atau sekitar 67 persen pengantin diketahui rela berutang demi mewujudukan dream wedding atau pernikahan impian mereka.
Menurut laporan, biaya pernikahan di AS pada tahun 2025 cukup besar, dengan rata-rata pasangan menghabiskan biaya hingga $21 ribu atau setara dengan Rp330 juta. Untuk mewujudkannya, banyak pasangan rela menggunakan kartu kredit, pinjaman pribadi, hingga meminta bantuan keluarga mereka untuk menutupi biaya pernikahannya.
Alasan terbesar mereka ialah ingin mengadakan pesta pernikahan yang sempurna dan membuat para tamu terkesan, serta memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitar mereka. Terlebih, pernikahan menjadi salah satu momen paling penting dalam hidup.
Kendati demikian, menurut survei tersebut, 52 persen pasangan merasa menyesal dengan keputusan yang mereka ambil untuk berutang demi dream wedding mereka. Selain berharap bisa lebih hemat, tak sedikit juga yang berharap bisa mengeluarkan uang lebih banyak. Bahkan laporan menyebut, banyak yang bertengkar hanya karena masalah uang. Masalah ini juga banyak terjadi pada pasangan di tanah air.
Berbanding terbalik, survei sebelumnya dari JakPat mengatakan jika Gen Z saat ini justru lebih menginginkan pernikahan yang simpel, intimate, dan tidak menghabiskan banyak biaya. Bahkan mereka cenderung lebih ingin menabung untuk menjalani kehidupan setelah pesta pernikahan.
Dari survei tersebut disebutkan mayoritas Gen Z hanya ingin mengundang tamu sebanyak 51-100 orang saja, yang terdiri dari orang-orang terdekat. Mereka juga enggan menghindari pernikahan yang rumit.
Gen Z disebut juga memiliki perencanaan keuangan yang lebih matang dan memilih untuk mengalokasikan dana tabungan mereka untuk membeli rumah, investasi jangka panjang, hingga menjalankan bisnis bersama pasangan. Hal ini berbeda dengan pasangan yang memilih berutang dan dinilai tak memiliki perencanaan anggaran yang realistis.
