Tagar #KaburAjaDulu Viral di Medsos, Bentuk Kekecewaan Generasi Muda?

Tagar #KaburAjaDulu Viral di Medsos, Bentuk Kekecewaan Generasi Muda? Tagar #KaburAjaDulu Viral di Medsos, Bentuk Kekecewaan Generasi Muda?

Jakarta, GPriority.co.id – Publik sedang dihebohkan dengan munculnya tagar #KaburAjaDulu yang viral di medsos.

Walaupun hanya berisi 3 kata, tagar #KaburAjaDulu ternyata bermakna besar sebagai bentuk kekecewaan generasi muda terhadap negaranya sendiri.

Melalui tagar #KaburAjaDulu, muncul berbagai ajakan seperti keluar dari Indonesia, baik untuk belajar atau bekerja hingga tinggal di luar negeri.

Sebagai informasi, awalnya tagar tersebut dijadikan sebagai wadah untuk berbagi informasi untuk memulai kehidupan di luar negeri.

Diantaranya seperti tips mendapatkan beasiswa, mencari pekerjaan, mengatasi culture shock, mengelola keuangan, juga mengganti kewarganegaraan.

Namun belakangan ini tagar #KaburAjaDulu beralih fungsi sebagai bentuk pesimisme atau kekecewaan generasi muda terhadap kondisi Indonesia.

Saat ini berbagai tantangan serius sedang dihadapi di Indonesia. Seperti tingkat pengangguran yang tinggi mencapai 5,2% per April 2024 kemarin.

Kemudian sarjana yang menganggur juga meningkat 2 kali lipat dalam 10 tahun terakhir.

Selain itu industri teknologi dan sektor padat karya juga mengalami PHK dalam jumlah besar.

Banyak juga generasi muda yang merasa semakin susah mencari pekerjaan di tanah air.

Australia dan Jepang Jadi Incaran Generasi Muda Indonesia?

Sementara jika dilihat dari tagar #KaburAjaDulu, 2 negara seperti Australia dan Jepang, nampak menjadi incaran bagi generasi muda Indonesia saat ini.

Pasalnya baik Australia maupun Jepang, keduanya menawarkan peluang karier yang lebih baik, dengan kualitas hidup dan gaji yang lebih tinggi.

Di Australia sendiri, UMR per jam dibayar Rp217,02 ribu. Sedangkan perminggunya mencapai Rp8,24 juta.

Begitupun dengan di Jepang, UMR per jamnya Rp103,86 ribu dan perminggunya Rp4,15 juta.

Mirisnya, apabila permasalahan tenaga kerja ini tidak dibenahi, Indonesia dapat kembali mengalami brain drain, yang membuat tenaga kerja terdidik dan berbakat lebih memilih tinggal di luar negeri.

Disamping itu, hal ini juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi negara juga kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas.

Sebagai informasi, fenomena brain drain di Indonesia juga pernah terjadi di tahun 1960-an.

Para intelektual yang dikirim Soekarno ke luar negeri, tidak diperbolehkan untuk kembali ke tanah air oleh Soeharto usai peristiwa G30SPKI pada 1965.

Foto : Ilustrasi/ANTARA