Dublin, Gpriority.co.id – Catherine Connolly resmi terpilih sebagai presiden Irlandia ke-10. Presiden perempuan ketiga dan dari sayap kiri pertama Irlandia ini dikenal sangat anti Israel.
Hasil pemilu Irlandia yang diumumkan pada 25 Oktober lalu mencatat Connolly meraih 63,4% suara, sementara lawannya Heather Humphreys hanya mencapai 29,5%. Sementara calon lainnya, Jim Gavin telah menyatakan mundur pada awal Oktober.
Connolly akan menggantikan Michael D. Higgins, Presiden Irlandia yang menjabat sejak 2011. Adapun pelantikan Catherine Connolly sebagai Presiden Irlandia dijadwalkan Desember 2025, mengikuti tradisi setelah hasil pemilu diumumkan akhir Oktober. Biasanya seremoninya di Dublin Castle dengan disaksikan pemimpin negara dan publik.
Keberhasilan Catherine Connolly meraih kursi Presiden tak lepas dari dukungan berbagai partai kiri diantaranya Sinn Fein, Green Party, Labour dan lainnya. Perempuan berusia 68 tahun ini tercatat sebagai Presiden Irlandia perempuan ketiga setelah Mary Robinson dan Mari Mc Aleese.
Disisi lain, visi misi Connolly juga diterima baik oleh rakyat Irlandia. Visinya adalah “Presiden untuk semua orang, terutama yang terpinggirkan dan dibungkam”. Adapun fokusnya pada diplomasi yang penuh kasih sayang, netralitas aktif sebagai alat damai, dan membangun jembatan antar komunitas. Dia ingin jabatan presiden jadi “cahaya” yang menjaga nilai-nilai Irlandia seperti kesetaraan, keadilan, dan harapan, bukan status tinggi tapi tanggung jawab besar dengan kerendahan hati.
Sementara misi utamanya ialah, Persatuan Irlandia, Perdamaian Global & Hak Asasi, Isu Sosial Domestik, dan Lingkungan dan Reformasi.
Connolly yang berlatarbelakang di bidang hukum selama ini dikenal adil, independen dan vokal soal isu sosial. Termasuk isu Palestina. Ya, Connolly dikenal sebagai pembela Palestina di negerinya. Dan di Irlandia, hal itu adalah biasa mengingat mereka juga memiliki kesamaan dijajah oleh Inggris dengan waktu yang panjang.
Connolly kerap berkritik keras atas Israel. Dia secara terbuka menyebut Israel sebagai “negara genosida”. Sikap ini sering disampaikan dalam berbagai pidato dan kebijakan luar negerinya, jadi secara jelas bisa dibilang dia sangat anti-Israel. Ia juga pernah menyebut jika NATO adalah provokator dalam konflik Rusia – Ukraina.
Foto : Catherine Connolly FB
