Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat meski telah masuk kategori negara berpendapatan menengah atas atau upper-middle income.
Berdasarkan indikator kemiskinan internasional World Bank dengan ambang US$8,30 per orang per hari, sekitar 64,2 persen penduduk Indonesia atau sekitar 184,9 juta orang berada di bawah standar tersebut.
Angka itu menempatkan Indonesia pada tingkat yang sangat tinggi dibandingkan sejumlah negara upper-middle income lainnya. Data World Bank menunjukkan ambang US$8,30 merupakan garis kemiskinan internasional yang digunakan untuk membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat antarnegara. World Bank menegaskan garis ini berbeda dengan garis kemiskinan nasional yang digunakan pemerintah masing-masing negara.
Jika dibandingkan negara ASEAN dalam daftar tersebut, angka Indonesia jauh di atas Thailand yang berada di sekitar 10,1 persen dan Malaysia sekitar 1 persen. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya tantangan Indonesia dalam meningkatkan daya beli dan kualitas hidup masyarakat.
Namun, 64,2 persen bukan berarti 64,2 persen penduduk Indonesia secara resmi dikategorikan miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metodologi dan garis kemiskinan nasional yang berbeda.
BPS mencatat tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen, atau sekitar 22,93 juta orang. Pada periode yang sama, garis kemiskinan nasional ditetapkan sebesar Rp669.235 per kapita per bulan.
Perbedaan tersebut terjadi karena World Bank menggunakan standar internasional untuk benchmarking, sedangkan BPS mengukur kemiskinan berdasarkan kondisi sosial-ekonomi Indonesia. Karena itu, kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung sebagai ukuran yang sama.
Prabowo Optimistis Indonesia Bangkit
Di tengah tantangan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimisme terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Saat membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8), Prabowo menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang kuat dan mandiri.
“Percaya sama saya, beberapa tahun lagi Indonesia akan bangkit dengan luar biasa dan tidak akan ada yang bisa membendung kita,” kata Prabowo.
Menurut Presiden, salah satu kunci untuk mewujudkan kebangkitan tersebut adalah keberanian memberantas korupsi. Pemerintah, kata dia, berupaya menutup kebocoran dan melakukan penghematan anggaran agar sumber daya negara dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat.
Prabowo juga menekankan pentingnya memastikan hasil pembangunan dirasakan kelompok masyarakat paling miskin dan tidak berdaya. Pemerintah, menurutnya, harus terus memperkuat pengelolaan kekayaan negara agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya dirasakan sebagian kelompok.
Dengan demikian, tantangan Indonesia bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan lapangan kerja berkualitas, peningkatan pendapatan, penurunan kemiskinan, dan pemerataan kesejahteraan.
