Jakarta, GPriority.co.id – Tradisi berbagi amplop Lebaran atau yang sering disebut “angpao Lebaran” masih menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia.
Meski saat ini perekonomian di tanah air sedang tidak baik-baik saja, masyarakat masih terus mempertahankan tradisi membagikan amplop Lebaran, terutama untuk para tetangga dan saudara-saudaranya, sebagai simbol kebahagiaan dan berbagi rezeki.
Samiaji, salah satu penjual amplop di daerah Bekasi, menuturkan jika amplop Lebaran masih banyak diminati. Setiap harinya, ia berjualan amplop Lebaran di depan pintu keluar motor Metropolitan Mall Bekasi, dari jam 9 pagi hingga 9 malam.
Amplop yang ditawarkannya pun ada 2 ukuran, besar dan kecil, dengan desain yang beragam dan menarik. Mulai dari motif klasik bernuansa islami, hingga karakter kartun yang disukai anak-anak.
“Iya ada dua ukuran. Besar dan kecil harganya sama-sama Rp10 ribu. Yang ukuran besar isi 5 (pcs), yang ukuran kecil isi 10 (pcs),” ujarnya saat diwawancarai GPriority langsung di lokasi jualannya, pada Rabu (18/3).
Fenomena desain amplop untuk Lebaran yang semakin beragam dan mengikuti perkembangan jaman, menunjukkan bahwa amplop ini bukan hanya sekadar menjadi wadah uang, namun juga menjadi bagian dari budaya visual yang terus mengalami perkembangan.

Meski saat ini sebagian orang memilih mengirim amplop digital melalui aplikasi perbankan atau dompet elektronik, namun tradisi memberi amplop Lebaran dalam bentuk fisik tak bisa hilang begitu saja.
“Rasanya berbeda. Ada interaksi langsung, ada senyum, dan suasana hangat yang tidak bisa didapat dari kirim uang lewat aplikasi,” ujar Afnan, salah satu ibu rumah tangga yang rutin memberikan amplop Lebaran di momen Idulfitri.
Di sisi lain, tradisi ini juga berdampak pada sektor ekonomi. Menjelang Lebaran, permintaan amplop meningkat tajam, memberikan peluang bagi pelaku usaha kecil hingga percetakan untuk meraup keuntungan. Tidak sedikit UMKM yang memanfaatkan momentum ini dengan menghadirkan desain custom yang unik dan personal.
Kendati demikian, perlu diingat agar tradisi ini tidak menjadi beban, terlebih di tengah kondisi perekonomian saat ini. Nilai utama dari amplop Lebaran adalah niat berbagi, bukan jumlah uang yang diberikan. Orang tua juga dianjurkan untuk mengajarkan anak-anak tentang makna berbagi dan mengelola uang sejak dini, sehingga tradisi ini tidak hanya menjadi kebiasaan konsumtif.
