Jakarta, GPriority.co.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan dan penguatan peran generasi muda untuk menghadapi perubahan global sekaligus mendukung prioritas pembangunan Indonesia.
Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari PBB atau United Nations Day (UN Day) 2026 di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Selasa (27/10).
Mengusung tema “Indonesia and the United Nations: Leadership for Our Common Future”, peringatan ini menyoroti pentingnya kerja sama multilateral yang adaptif, inklusif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI bersama Kantor Perwakilan PBB di Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta UN Global Compact Network Indonesia.
Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, menekankan bahwa perubahan kebutuhan pembangunan nasional harus diikuti dengan penyesuaian peran PBB.
“Seiring perubahan Indonesia, PBB juga harus berubah bersamanya,” kata Sabharwal.
Menurutnya, reformasi menjadi kebutuhan penting agar organisasi internasional tersebut tetap relevan di tengah dinamika global dan perkembangan pembangunan Indonesia.
“Reformasi bukanlah sebuah kemewahan. Reformasi adalah harga yang harus dibayar agar tetap relevan,” ujarnya.
Sabharwal menjelaskan bahwa PBB tidak harus mengambil alih seluruh agenda pembangunan Indonesia. Sebaliknya, dukungan dapat diberikan melalui keahlian global, standar internasional, kemitraan, pendanaan, serta penguatan institusi nasional.
Kontribusi tersebut antara lain mencakup peningkatan layanan kesehatan ibu di lebih dari 9.000 puskesmas, dukungan pengelolaan berkelanjutan lebih dari lima juta hektare hutan dan lahan gambut, serta pengembangan peta jalan energi surya berkapasitas 100 gigawatt.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, yang akrab disapa Menlu Tata, mendorong generasi muda agar terlibat aktif dalam menentukan arah masa depan PBB dan tatanan multilateral.
“Indonesia membutuhkan gagasan kalian. PBB membutuhkan keberanian kalian,” kata Tata.
Ia menegaskan bahwa suara anak muda penting disampaikan sekarang, bukan sekadar menunggu mereka menduduki posisi kepemimpinan
“Suara kalian penting, bukan suatu hari nanti, tetapi sekarang, hari ini,” ujarnya.
Tata menyebut generasi muda dapat berkontribusi sebagai aktivis, warga negara, maupun konsumen yang mendorong perubahan sosial dan perilaku perusahaan. Ia juga menyoroti tantangan kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital, termasuk perlunya tata kelola teknologi yang lebih inklusif serta perlindungan bagi pekerja ekonomi gig.
“Jika kita tidak memperkecil kesenjangan ini, AI akan membagi dunia menjadi mereka yang membentuknya dan mereka yang dibentuk olehnya,” kata Tata.
Dalam kesempatan tersebut, diluncurkan pula publikasi Letters to 2045, yang menghimpun harapan generasi muda Indonesia mengenai masa depan bangsa dan perannya di dunia.
Peringatan UN Day 2026 sekaligus menandai 81 tahun berdirinya PBB dan 76 tahun hubungan kerja sama Indonesia-PBB. Melalui reformasi, kemitraan pembangunan, dan keterlibatan generasi muda, kedua pihak mendorong terwujudnya masa depan yang lebih damai, adil, dan berkelanjutan.
