Jakarta, GPriority.co.id – Setelah kematian selebgram Lula Lahfah, muncul isu tudingan bahwa GERD bisa memicu penyakit jantung.
Banyak dokter spesialis yang kemudian menjelaskan bahwa GERD tidak secara langsung memicu penyakit jantung. Salah satunya akun X @dr.bobbyjantung yang menulis singkat, “GERD ga bikin sakit jantung.”
Sementara akun lainnya juga mengungkap hal senada, dan menegaskan bahwa GERD tidak membuat henti jantung mendadak. Namun alih-alih menjadi ruang edukasi, netizen yang tidak terima justru mengejek pandangan dokter tersebut.
Jika dilihat dari sisi akademisi, fenomena ini disebut “matinya kepakaran”, dan bukan hal yang baru. Sebelumnya, fenomena tersebut telah dibahas oleh akademisi Tom Nichols lewat bukunya yang berjudul, “The Death of Expertise: The Campaign against Established Knowledge and Why it Matters” di tahun 2017 lalu, sebagaimana dilansir dari postingan akun Instagram @conversationidn.
Dr. dr. Vito A. Damay (SpJP(K), MKes, AIFO-K, FIHA, FICA, FAsCC, spesialis jantung dan pembuluh darah atau varises, juga mencoba menjelaskan terkait perdebatan tersebut, melalui postingan terbaru di akun Instagramnya, @doktervito.
Dr. Vito menyebut, GERD bisa terasa seperti masalah jantung karena beberapa hal. Pertama, letak anatomis dekat, dimana esofagus dan jantung berdampingan, sehingga rasa nyerinya terasa mirip.
Kedua, jalur saraf yang sama (saraf vagus), refluks asam bisa memicu sensasi dada yang membuat tidak nyaman. Ketiga, respon otonom dan inflamasi ringan di mana pada sebagian orang, GERD bisa berkaitan dengan berdebar-debar. Hal ini merupakan hubungan fungsional dan sensorik, bukan kerusakan jantung.
“Konteks diagnosis klinis dan edukasi masyarakat kalau kita bicara penyakit jantung yang berbahaya, maka harus tegas. GERD tidak menyebabkan serangan jantung, tidak menyebabkan jantung membesar, dan tidak menyebabkan henti jantung,” jelas Dr. Vito.
Ia melanjutkan, “Serangan jantung terjadi karena sumbatan pembuluh darah jantung, bukan karena asam lambung. Itu jelas. Ini penting supaya edukasi dimengerti masyarakat umum dan orang tidak overthinking.”
Kendati demikian, Dr. Vito mengingatkan bahwa serangan jantung jangan sampai hanya dianggap GERD. Pasalnya, keduanya memiliki perbedaan.
“Keduanya berbeda, namun sama-sama perlu dimengerti dengan benar,” pungkasnya.
