112 Menolong Warga DKI Banget

Tahun 2017, Kementerian Komunikasi dan informatika (Kominfo) membuat layanan call center tanggap darurat 112. Yang menjadi alasan kominfo membuat layanan tersebut adalah agar warga tidak perlu menghafal banyak nomor saat menghadapi kondisi darurat.

“Sebelum adanya layanan 112, setiap Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) di seluruh Indonesia memiliki call center masing-masing untuk laporan kondisi gawat darurat. Misalnya nomor panggilan 118 untuk ambulans, 110 untuk kepolisian, 113 untuk pemadam kebakaran, dan 115 untuk Search and Rescue. Hal ini tentu saja membuat warga menjadi bingung, beruntung di tahun 2017, Kominfo membuat layanan call center tanggap darurat 112. Sehingga semua layanan tersebut terintegrasi,” ucap salah satu isi yang terdapat di smartcity.jakarta.go.id.

Usai diluncurkan oleh Kominfo, DKI Jakarta merupakan provinsi pertama yang mengimplementasikan melalui Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 188 tahun 2017 tentang penyelenggaraan layanan nomor tunggal panggilan darurat 112.

Layanan tersebut menurut smartcity.jakarta.go.id, dikoordinasikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta dan terhubung dengan beberapa SKPD terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), serta Polda Metro Jaya.

“Warga dapat mengandalkan layanan darurat 112 selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan bisa mengaksesnya melalui semua operator telepon, baik telepon seluler maupun telepon rumah. Panggilan ini bebas biaya dan dapat dilakukan bahkan dalam kondisi ponsel tanpa SIM card, namun masih dalam jangkauan sinyal layanan operator,” kutip isi dari smartcity.jakarta.go.id.

Hadirnya layanan 112 di DKI Jakarta membuat banyak warga merasa tertolong, salah satunya Bapak Yosi, warga yang tinggal di Jalan Kalibaru,Jakarta Pusat. “ Minggu malam (21/2/2021) saya menghubungi 112 minta segera dikirimkan bantuan ambulans untuk orang tua saya yang sakit. Operator telepon (call taker) di Pusat Panggilan Darurat 112 langsung segera mendata. Call Taker menghubungi lagi dengan dampingan dokter menanyakan detail kondisi pasien dan mencarikan armada ambulance. Tidak butuh waktu lama ambulance bersama seorang perawat lengkap dengan Alat Pelindung Diri (APD) ada dirumah didepan rumah dan membawa orang tua saya ke rumah sakit. Terima kasih 112,” kata Yosi.

Terkait cara kerjanya yang cepat, smartcity.jakarta.go.id dalam ulasannya menjelaskan bahwa panggilan dari masyarakat ke nomor 112 langsung diterima oleh call taker di Pusat Panggilan Darurat 112 untuk kemudian diteruskan kepada petugas pengarah (dispatcher) yang akan menentukan jenis keadaan darurat dan meneruskan informasi tersebut kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kedaruratan, kepolisian setempat, atau petugas lapangan yang akan melakukan penanganan kedaruratan.

Selain meneruskan laporan ke dinas-dinas terkait untuk mendapatkan respons secepatnya, layanan ini juga memungkinkan petugas untuk memandu penelepon guna melakukan tindakan-tindakan tertentu. Cara ini diharapkan bisa mencegah kejadian yang lebih parah atau mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Selain itu, layanan 112 juga memanfaatkan Global Positioning System (GPS) yang terpasang pada kendaraan maupun perangkat, sehingga memungkinkan petugas monitoring untuk mendeteksi keberadaan petugas lapangan yang berada di lokasi terdekat dengan kejadian sehingga mempercepat respons aduan.

Selain permintaan pelayanan ambulans gawat darurat, 112 juga bisa menerima panggilan telepon mengenai penyelamatan kemanusiaan, penanganan kebakaran,penanganan terjadinya kecelakaan,penanganan kejadian tindak kriminal, penanganan kekerasan terhadap perempuan, terorisme, pohon tumbang yang mengganggu aktivitas warga, hingga penanganan kegawatdaruratan lainnya.(Hs.Foto.Hs)

Related posts