Jakarta, GPriority.co.id – Selain kaya akan budaya dan wisatanya, Indonesia juga terkenal dengan beragam kain khas yang memikat. Indonesia sendiri memiliki banyak desa yang menjadi penghasil kain khas. Setiap desa tersebut memproduksi kain khas yang berbeda satu sama lain, hingga menjadi daya tarik bagi para pengunjungnya.
Tak hanya sekadar berkunjung, anda juga dapat belajar membuat kain. Tak heran jika desa-desa penghasil kain khas ini dapat masuk wishlist liburan anda bersama keluarga maupun pasangan.
Berikut ini, 4 desa penghasil kain khas tercantik di Indonesia yang bisa anda kunjungi.
1. Desa Wisata Giriloyo – Kain Batik, Yogyakarta
Yogyakarta dikenal sebagai kota batik. Salah satu desa penghasil kain batik yang terkenal di Yogyakarta adalah Desa Wisata Batik Giriloyo. Dilansir dari laman resminya, batik yang dihasilkan pun memiliki keunikan tersendiri, dengan Warna cenderung gelap, didominasi oleh nuansa coklat, biru tua, atau hitam. Warna-warna ini mencerminkan hubungan geografis dengan pertanian yang menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat.
Warga Desa Wisata Batik Giriloyo telah menekuni kerajinan batik tulis sejak abad ke-17. Meski dilanda gempa pada tahun 2006, masyarakat Giriloyo bangkit dan tetap mempertahankan tradisi batik mereka. Terletak di Jl. Giriloyo, Karang Kulon, Wukirsari, Kec. Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, anda dapat menikmati beragam fasilitas seperti galeri batik dengan motif klasik hingga modern, melihat koleksi batik mulai dari harga Rp500 ribu-Rp3 juta, belajar membatik dengan biaya Rp250 ribu, hingga berwisata kuliner khas Yogyakarta.
2. Desa Pamijahan – Kain Tenun, Cirebon
Selain terkenal dengan produksi batiknya, ada salah satu desa di daerah Cirebon, Jawa Barat, yang memproduksi kain tenun, bernama Desa Pamijahan. Terletak di Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, warganya memproduksi produk berupa kain tenun Tajung, Blongsong dan Blongket yang beredar di pasaran kain di Cirebon hingga saat ini.
Meski umumnya kain tersebut terkenal dari daerah Palembang, namun kualitas produk yang dihasilkan oleh warga Desa Pamijahan ini tak kalah hebat dengan produsen aslinya di Palembang. Setiap harinya mereka memproduksi puluhan kain Tajung, Blongsong, dan Blongket berukuran 4×2 meter dan 4×1,2 meter dengan menggunakan alat tenun tradisional dari kayu kotrekan. Kain tenun tersebut dijual mulai dari harga Rp250 ribu hingga Rp10 juta, tergantung motifnya.
3. Desa Nunsaen – Kain Tenun, Nusa Tenggara Timur
Jika anda berlibur ke NTT, cobalah untuk belajar menenun kain di Desa Nunsaen. Biasanya, para wisatawan akan membawa kain hasil tenunannya tersebut sebagai cenderamata. Desa Nunsaen sendiri merupakan salah satu desa penghasil tenun terbaik di NTT. Desa ini terletak 50 kilometer dari Kota Kupang. Lokasi desa ini terbilang unik, karena berada pada kaki Gunung Fatuleu. Selain itu, para warganya juga terkenal dengan keramahannya.
Untuk harganya kain tenun di Desa Nunsaen berbeda-beda, tergantung dari seberapa rumit pola kain yang dibuat dan seberapa indah pola yang ada pada kain. Paling murah berkisar Rp100 ribu hingga Rp1,6 juta. Harga tersebut terbilang wajar meningat pembuatan 1 kain tenun dengan pola sederhana saja membutuhkan proses hingga 1 minggu lamanya.
4. Desa Muara Penimbung – Kain Songket, Palembang
Desa Muara Penimbung terletak 35 km dari Kota Palembang. Desa ini terkenal sebagai Kampung Tenun Songket, sejak tahun 2010 silam. Termasuk dalam masuk wilayah Indralaya di Kabupaten Ogan Ilir, banyak terdapat penenun Kain Songket khas Sumatera Selatan di desa ini.
Satu hal yang menjadi istimewa, mayoritas penduduk Desa Muara Penimbung terbiasa membuat kain Songket dari rumah mereka masing-masing. Motif kain songket yang tersedia pun beragam. Seperti motif Nanda Benaung, Bintang Berantai, Janda Beraes sampai ke motif hewan. Namun yang paling istimewa adalah kain songket Warna Alam.
Ciri khas batik tenunnya terletak pada benang dan tenunannya yang menghasilkan warna alam yang lebih doff dan elegan. Pewarna yang digunakan pun didapat dari bahan-bahan alami seperti warna cokelat dari kulit pohon dan warna kuning dari kulit jeruk. Harga kain songket yang dijual pun mulai dari Rp1 juta hingga Rp8,5 juta.
Foto : Dok. ANTARA
