Kiat Jitu Latih Public Speaking Agar Makin Shining!

Kiat Jitu Latih Public Speaking Agar Makin Shining! Kiat Jitu Latih Public Speaking Agar Makin Shining!

Jakarta, GPriority.co.id – Public Speaking merupakan salah satu skill penting yang harus dimiliki seseorang, utamanya dalam dunia kerja. Seseorang dengan skill public speaking yang baik, mampu berbicara di hapadan khalayak ramai dan menyampaikan pesan secara efektif.

Belakangan ini, isu kualitas public speaking para pejabat Indonesia menjadi sorotan. Salah satunya Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan RI, Hasan Nasbi. Dirinya sempat viral usai ditanya terkait kasus teror kepala babi yang di kirim ke kantor Tempo.

Saat itu ia menanggapi pertanyaan wartawan dengan menjawab, “Sudah dimasak saja”, dan langsung berlalu tanpa mengungkapkan lebih detail. Sontak, video wawancara tersebut pun viral dan dirinya dikritik habis-habisan oleh netizen. Tak lama setelah itu, Hasan pun mengklarifikasi jika pernyataannya tersebut bermakna tak perlu takut dengan teror yang datang.

Buntutnya, Hasan Nasbi pun mengundurkan diri pada Senin (21/4) lalu dari jabatannya, seraya enegaskan jika keputusannya diambil dengan pertimbangan matang dan bukan karena dorongan emosional semata. Ia merasa sudah saatnya ‘menepi’ dan memberi ruang bagi sosok yang lebih baik untuk melanjutkan tugas tersebut.

Menggali isu public speaking lebih lanjut, tim GPriority mencoba mewawancarai Amelia Wisda Sannie, yang pernah menjadi seorang presenter televisi juga Tim Komunikasi Publik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Amel mengatakan, saat ini public speaking bukan lagi sekadar kebutuhan para pembicara profesional, namun sudah menjadi life skill yang esensial bagi semua orang, di bidang apapun.

Menurutnya, kemampuan menyampaikan ide dengan jelas, percaya diri, dan menarik, bukan hanya membantu dalam karier, tapi juga memperkaya hubungan sosial, membangun kepercayaan diri, dan membuka banyak peluang.

“Jadi menurut saya, public speaking adalah investasi diri yang harus dimiliki oleh setiap individu, apapun profesinya,” ujarnya.

Menanggapi isu public speaking para pejabat saat ini, Amel berpendapat jika kemampuan public speaking para pejabat publik merupakan hal yang krusial. Bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membentuk persepsi, membangun kepercayaan, dan menjadi contoh bagi masyarakat.

“Ketika ada pejabat yang public speaking-nya kurang baik, efeknya bisa cukup besar. Pesan jadi tidak tersampaikan dengan baik, bahkan kadang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Di era keterbukaan informasi ini, penting sekali pejabat publik, termasuk menteri, membekali diri dengan kemampuan berbicara yang jernih, lugas, empatik, dan terstruktur,” jelas Amel.

Lebih lanjut, Amel percaya jika public speaking seharusnya dapat menjadi salah satu syarat penting, meskipun mungkin belum tercantum secara formal. Hal ini mengingat seorang pemimpin, pejabat, atau pegawai pemerintahan bertugas menyampaikan banyak hal ke publik. Mulai dari kebijakan, program, hingga keputusan strategis.

“Tanpa keterampilan berbicara yang efektif, pesan-pesan penting bisa disalahartikan atau diabaikan. Public speaking adalah jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Maka, kemampuan ini bukan lagi tambahan, melainkan kebutuhan dasar,” tegasnya.

Amel yang merupakan lulusan S2 Corporate Communication itu juga menuturkan, pengaruh public speaking sangatlah besar karena dapat mengubah cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Contohnya saja pesan yang disampaikan lewat sebuah pidato. Bisa menggugah, membakar semangat, bahkan menggerakkan perubahan sosial.

Begitupun dalam skala individu, public speaking yang baik dapat membantu dalam karir, memperluas jejaring, hingga meningkatkan rasa percaya diri. Ia percaya, kemampuan berbicara yang efektif adalah salah satu superpower di masa kini.

Untuk melatih public speaking yang baik, berikut ini kiat-kiat yang dapat dilakukan, menurut Amel :

• Latihan rutin. Sama seperti naik sepeda, public speaking butuh dilatih terus-menerus agar terbiasa mengayuh kemampuan berbicara kita.
• Kenali audiens. Semakin kita tahu kepada siapa kita berbicara, semakin tepat gaya dan isi pesan yang mau kita sampaikan.
• Struktur pesan. Mulai dengan pembukaan menarik, isi yang terstruktur, dan penutupan yang mengesankan.
• Perhatikan bahasa tubuh. Kontak mata, gestur tangan, postur tubuh semua akan bisa mendukung pembawaan kita saat berbicara.
• Kelola rasa gugup. Nervous itu normal, alihkan energi gugup menjadi energi positif.

Namun, bagaimana dengan seseorang dengan kepribadian introvert atau pemalu yang ingin belajar public speaking?

Menurutnya, introvert bukan berarti tidak bisa menjadi seorang public speaker. Bahkan seringkali mereka mempunyai kekuatan tersendiri seperti ketenangan, kedalaman berpikir, dan empati.

Berikut ini tips untuk melatih public speaking bagi para introvert :

• Mulailah dari audiens kecil dulu, seperti keluarga, teman dekat atau komunitas.
• Gunakan kekuatan storytelling, bercerita lebih natural daripada “berpidato”.
• Latihan teknik pernapasan untuk mengurangi gugup.
• Fokus pada pesan yang ingin disampaikan, bukan pada ketakutan akan penilaian orang. Ingat, public speaking bukan soal menjadi orang lain, tapi mengoptimalkan kemampuan diri sendiri.

Terakhir, Amel berpesan, “Public speaking itu bukan soal menjadi sempurna, tapi tentang berani berbicara, melakukannya tulus dari hati, penuh percaya diri dan mempunyai tujuan yang jelas. Saya yakin semua orang bisa berkembang asal mau berproses dan konsisten.”

Editor: Novita Intan

Foto : Ilustrasi/Getty Images