Jakarta, GPriority.co.id – Lebaran biasanya identik dengan menu makanan yang kaya akan santan. Selain itu, berbagai makanan dari olahan daging, salah satunya rendang dan semur, juga tak terlepas dari menu makanan saat momen Lebaran.
Meski terlalu banyak makan daging terlebih yang diolah dengan santan akan berefek buruk bagi kesehatan, namun penelitian terbaru mengungkapkan bahwa mengonsumsi daging dalam jumlah lebih tinggi ternyata berpotensi menurunkan risiko demensia (pikun), lho!
Sebagaimana dilansir dari laporan NY Post, penelitian ini dilakukan oleh Karolinska Institute di Swedia ini melibatkan lebih dari 2.100 orang berusia 60 tahun ke atas dan berlangsung selama 15 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan varian gen tertentu, yaitu APOE3/4 atau APOE4/4, memiliki risiko demensia yang lebih rendah jika mengonsumsi lebih banyak daging.
Peneliti menemukan bahwa manfaat ini hanya terjadi pada individu yang memiliki gen APOE4, yang memang diketahui meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.
Pada kelompok ini, peserta yang mengonsumsi daging dalam jumlah tinggi (sekitar 870 gram per minggu) mengalami penurunan kognitif yang lebih lambat dan risiko demensia yang lebih rendah. Sebaliknya, efek tersebut tidak ditemukan pada orang tanpa gen risiko tersebut.
Kendati demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua daging memberikan efek yang sama. Penelitian ini menekankan bahwa daging segar atau unprocessed meat, memang berkaitan dengan penurunan risiko demensia. Namun sebaliknya, daging olahan atau processed meat, justru dapat meningkatkan risiko demensia.
Bahkan, proporsi daging olahan yang lebih rendah dalam pola makan tetap berkaitan dengan risiko demensia yang lebih kecil, terlepas dari faktor genetik.
Perlu dicatat, para ahli mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Faktor lain seperti gaya hidup, aktivitas fisik, dan kondisi sosial juga bisa memengaruhi hasil. Oleh karena itu, diperlukan uji klinis lanjutan sebelum rekomendasi diet khusus dapat dibuat.
“Temuan ini membuka peluang baru dalam dunia kesehatan, yaitu pola makan yang disesuaikan dengan genetik (personalized nutrition). Sekitar 25–30% populasi diketahui memiliki varian gen APOE4, sehingga pendekatan ini berpotensi berdampak luas jika terbukti secara klinis,” tulis Karolinska Institute di laman resminya.
