Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan skenario yang lebih adaptif dan responsif terhadap kondisi di lapangan.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan arus balik Idulfitri 1447 Hijriah di lintas penyeberangan Sumatra–Jawa berjalan lebih terkendali, aman, dan lancar.
“Puncak arus mudik sudah kita lewati. Saat ini, fokus kita adalah memastikan arus balik dapat dikelola lebih baik, dengan respons yang lebih cepat serta strategi yang lebih matang,” tutur Dudy dalam rapat evaluasi dan koordinasi tersebut digelar di Kantor PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), di Merak, Minggu (22/3).
Ia menjelaskan, Kementerian Perhubungan telah menyiapkan sejumlah strategi, seperti percepatan penerapan sistem tiba–bongkar–berangkat (TBB) saat terjadi lonjakan kendaraan, serta simulasi kapasitas layanan dengan 5 hingga 6 dermaga agar daya tampung lebih optimal.
Selain itu, antisipasi dilakukan di titik crossing di Bakauheni agar tidak menghambat proses bongkar muat. Pengaturan arus kendaraan juga diperkuat melalui koordinasi dengan kepolisian, termasuk optimalisasi rest area.
Evaluasi juga mencakup penggunaan dermaga non-TBB, pengaturan jumlah kapal agar tetap efisien, serta menyiapkan jalur alternatif melalui Pelabuhan Panjang–Krakatau Bandar Samudra jika terjadi kepadatan kendaraan.
Pemanfaatan teknologi turut ditingkatkan, seperti penggunaan drone untuk pemantauan secara real-time di wilayah Bakauheni guna mendeteksi potensi antrean lebih cepat.
Di sisi hulu, pengaturan kendaraan dilakukan melalui buffer zone dan rest area dengan sistem penundaan (delaying system) bekerja sama dengan Korlantas Polri, agar kendaraan tidak menumpuk di pelabuhan. Pengawasan juga ditingkatkan di titik rawan, seperti area penjualan oleh-oleh yang berpotensi menghambat lalu lintas.
Dudy menegaskan, hasil evaluasi arus mudik menjadi dasar perbaikan strategi arus balik, mengingat pergerakan masyarakat masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
“Setiap catatan selama arus mudik harus segera kita perbaiki. Jangan menunggu masalah membesar. Kuncinya ada pada kecepatan respons dan ketepatan pengambilan keputusan di lapangan,” ujar Dudy.
Berdasarkan evaluasi, puncak arus mudik terjadi pada 18 Maret 2026. Secara umum berjalan baik, namun masih ada catatan, salah satunya penerapan sistem TBB yang baru optimal di 3–4 dermaga.
Ke depan, Dudy meminta agar sistem TBB bisa diterapkan lebih cepat dan diperluas hingga 5–6 dermaga untuk meningkatkan kapasitas layanan dan mengurangi antrean.
“Penerapan TBB harus lebih responsif terhadap dinamika di lapangan. Jika terjadi lonjakan, harus bisa segera diberlakukan secara optimal,” pungkasnya.
