Seoul, Gpriority.co.id – Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae-myung memicu badai diplomatik internasional setelah mengunggah ulang video kontroversial di platform X pada Jumat, 10 April 2026, yang menampilkan dugaan aksi tentara Israel (IDF) melempar jenazah bocah Palestina dari atap bangunan.
Unggahan tersebut kemudian viral dengan jutaan tayangan, memicu kritik pedas dari Israel dan adu argumen dengan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan (Kemlu Korsel).
Video berdurasi 20 detik awalnya diunggah akun @Jvnior dengan caption : “Live: Tentara IDF (Pasukan Pertahanan Israel) menyiksa seorang bocah Palestina lalu melemparkannya dari atap. Mereka menyebut diri mereka ‘tentara paling bermoral’.”
Lee Jae-myung lantas membagikannya di akun X resminya, menambahkan komentar pribadi: “Perlu untuk menentukan keaslian video tersebut dan menilai tindakan apa yang telah diambil, menekankan keseriusan tuduhan tersebut. Pembunuhan di masa perang tidak berbeda dengan isu yang kita permasalahkan, seperti perbudakan paksa terhadap wanita penghibur, dan pembantaian orang Yahudi.”
Dalam postingan lanjutan, ia juga menegaskan: “Insiden tersebut melibatkan jasad, bukan orang hidup—sebuah rahmat kecil, jika bisa disebut demikian. Kekejaman terhadap jasad tetap pelanggaran hukum internasional. Hukum humaniter internasional harus ditegakkan dalam semua keadaan dan martabat manusia harus dijaga sebagai nilai utama.”
Lebih lanjut dikatakan, “Untuk alasan apa pun dan di tempat mana pun, hak asasi manusia adalah garis pertahanan terakhir dan nilai yang tidak dapat ditukar dengan apa pun. Banyak tragedi sepanjang sejarah telah menunjukkan bahwa hak asasi manusia adalah nilai tertinggi dan paling penting. Manusia tidak boleh mengulangi penderitaan masa lalu melalui kekejaman lebih lanjut, sehingga umat manusia dapat bergerak menuju masa depan rekonsiliasi, hidup berdampingan, dan kerja sama.”
Lee menyebut insiden terjadi September 2024 di Qabatiya, Tepi Barat, merujuk respons Gedung Putih saat itu sebagai “mengganggu”.
Al Jazeera, media Qatar memverifikasi video sebagai rekaman asli September 2024, menunjukkan tentara IDF mendorong/menendang tiga jenazah warga Palestina (termasuk satu diduga bocah) dari atap gedung. Kementerian Luar Negeri Palestina menyatakan “kejahatan sistemik” yang langgar hukum internasional soal perlakuan jenazah. Meski viral sebagai “lempar bocah hidup”, korban tampak tak bernyawa; IDF klaim sudah selidiki internal pada 2024.
Kementerian Luar Negeri Israel lalu mengecam unggahan Lee serta mengatakan “tidak dapat diterima”, akun @Jvnior palsu, dan video propaganda anti-Israel untuk hidupkan kembali insiden lama. Mereka menuduh Lee meremehkan Holocaust dengan perbandingan historisnya.
Hal tersebut kemudian direspon Kementerian Luar Negeri Korsel dengan menyampaikan, “Pemerintah sesalkan bahwa Kementerian Luar Negeri Israel salah memahami maksud dari unggahan presiden dan menanggapinya dengan bantahan. Pesan Presiden Lee merupakan keyakinan terhadap hak asasi manusia universal, bukan posisi atas isu spesifik tertentu.”
Atas respon Israel juga, Lee mengkritik, Israel “kurang refleksi” atas tuduhan pelanggaran HAM global. Ketegangan ini dapat dikatakan menguji hubungan bilateral Korsel-Israel yang kuat di teknologi/pertahanan, meski Korsel netral di Timteng.
Unggahan viral itu pun memicu perdebatan sengit soal kekerasan IDF di Gaza/Tepi Barat. Sebagai figur progresif, Lee konsisten kritis isu HAM global, tapi pemerintah Korsel terkesan menjaga jarak dan menyebut ini sikap pribadi.
Foto : Istimewa
