Momen Haru Isak Tangis Keluarga Iringi korban KRL Bekasi Timur

Harum Anjasari dan Nur Ainia Eka Rahmadhynna, 2 korban kecelakaan KRL Stasiun Bekasi Timur/Foto : Dok. Istimewa Harum Anjasari dan Nur Ainia Eka Rahmadhynna, 2 korban kecelakaan KRL Stasiun Bekasi Timur/Foto : Dok. Istimewa

Bekasi, GPriority.co.id – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Suasana haru dan isak tangis mengiringi prosesi pemakaman para korban, salah satunya Harum Anjasari, yang menjadi korban dalam tragedi tabrakan kereta tersebut.

Peristiwa kecelakaan yang terjadi pada 27 April 2026 di Bekasi Timur itu menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai puluhan lainnya. Kecelakaan KRL Bekasi Timur 2026 menjadi salah satu tragedi transportasi paling memilukan dalam beberapa waktu terakhir.

Suasana duka tampak jelas saat pemakaman Harum Anjasari di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipayung, Jakarta Timur. Tangis keluarga pecah saat jenazah dimasukkan ke liang lahat, diiringi doa dari kerabat dan warga sekitar.

Dilansir dari laporan ANTARA, suasana pemakaman berlangsung penuh haru. Keluarga dan kerabat tidak kuasa menahan kesedihan atas kepergian korban yang dikenal sebagai sosok pekerja keras dan tulang punggung keluarga.

Suami Harum, Radit, sempat mengungkap momen terakhirnya bersama sang istri sebelum tragedi itu terjadi. Dari dalam gerbong KRL, Harum memberi kabar ada KRL yang menabrak sebuah mobil di Bekasi Timur.

“Sayang, ini keretanya nabrak mobil,” kata Radit mengulang pesan istrinya saat itu.

Radit pun mengenang sosok Harum sebagai seseorang dengan kepribadian yang baik. Radit tampak terlihat tegar dan ikhlas meski ada rasa marah dan kecewa atas kepergian istrinya.

“Kalau kita menyalahkan kejadian ya buat saya nggak dewasa sebagai manusia. Karena apapun sudah digarisin sama Tuhan,” ungkapnya.

Kisah pilu juga datang dari keluarga korban lainnya, Nur Ainia Eka Rahmadhynna, karyawan Kompas berusia 32 tahun. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, supel, serta pekerja keras. Ia juga merupakan sosok yang periang.

Usai pemakaman di TPU Mangun Jaya, Kabupaten Bekasi, sang ayah, Hary Marwata, menceritakan bahwa Aini adalah sosok mandiri yang tidak ingin merepotkan orang tuanya. Bahkan saat harus berangkat kerja dini hari, ia terbiasa pergi tanpa membangunkan keluarga di rumah.

Menurutnya, Aini juga memiliki peran penting dalam keluarga, terutama setelah dirinya pensiun. Ia membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga.

Selain itu, Aini dikenal sebagai pribadi penyayang. Ia sangat peduli terhadap adik-adiknya, meskipun tetap tegas ketika menasihati mereka. Bagi keluarga, Aini adalah anak yang berbakti dan selalu berusaha membantu orang tua.