Cilacap, GPriority.co.id – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto viral usai menanggapi santai fenomena seruan “kabur aja” yang belakangan ramai di media sosial.
Dalam pernyataannya, Prabowo justru mempersilakan siapa pun yang ingin meninggalkan Indonesia, bahkan jika tujuannya ke negara yang tengah dilanda konflik seperti Yaman.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam acara ‘Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II’ di Cilacap, Rabu (29/4) kemarin.
Ia menilai seruan tersebut tidak perlu ditanggapi secara berlebihan, karena setiap warga negara memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya, termasuk memilih tinggal atau pergi ke luar negeri.
“Terus kita dibikin apa lagi? Indonesia gelap. Matanya buram Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur? Kabur aja. Kok kabur aja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman ya? Silakan. Mau kabur ke mana?” ujar Prabowo dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis (30/9).
Menurutnya, Indonesia tetap merupakan negara yang memiliki peluang besar untuk berkembang. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap optimistis dan berkontribusi dalam membangun bangsa, alih-alih pesimistis terhadap kondisi dalam negeri.
Prabowo juga menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia bukanlah hal yang luar biasa jika dibandingkan dengan kondisi di sejumlah negara lain. Ia menyinggung bahwa masih banyak negara yang mengalami konflik berkepanjangan hingga krisis kemanusiaan.
Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang relatif stabil, baik dari segi keamanan maupun pembangunan ekonomi.
Oleh sebab itu, menurutnya, sikap pesimis hingga muncul ajakan “kabur aja” tidak mencerminkan semangat kebangsaan.
Fenomena “kabur aja” sendiri mencuat di berbagai platform digital sebagai bentuk ekspresi kekecewaan sebagian masyarakat terhadap kondisi sosial, ekonomi, maupun politik di Indonesia.
Di tengah dinamika yang ada, Prabowo berharap masyarakat tetap menjaga semangat persatuan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan. Ia menegaskan bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kontribusi seluruh rakyatnya.
