Rhenald Kasali Nilai Pernyataan CEO Honda Bukan Tanda Menyerah, Tapi…

pakar manajemen Rhenald Kasali. Foto: dok.gramedia

Jakarta, GPriority.co.id – Honda mulai mengakui kerasnya tekanan persaingan industri otomotif global, terutama dari produsen kendaraan listrik asal China yang kini semakin agresif menguasai pasar dunia.

CEO Honda Toshihiro Mibe secara terbuka menyebut perusahaan menghadapi tantangan besar untuk menyaingi efisiensi biaya dan kecepatan produksi pabrikan China dalam pengembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Produsen otomotif China dinilai berhasil mengguncang pasar global melalui strategi harga murah dengan kualitas kendaraan yang kompetitif. Situasi itu membuat banyak merek otomotif besar dunia mulai melakukan evaluasi besar-besaran terhadap strategi bisnis mereka.

Honda pun disebut tengah mempercepat riset dan inovasi agar tidak tertinggal di tengah perubahan industri otomotif yang bergerak sangat cepat.

Menanggapi kondisi tersebut, pakar manajemen Rhenald Kasali menilai pengakuan Honda justru menjadi sinyal penting bahwa lanskap bisnis global sedang mengalami transformasi besar.

Menurut Rhenald, ketika perusahaan sebesar Honda mulai mengakui beratnya persaingan, hal itu bukan pertanda kelemahan, melainkan bukti bahwa pola bisnis lama mulai tergeser oleh perubahan zaman.

“Ketika brand sebesar Honda mulai berbicara soal beratnya persaingan, ini bukan tanda menyerah. Justru tanda bahwa dunia benar-benar sedang berubah,” ujar Rhenald Kasali dalam unggahan Instagramnya dikutip, Rabu (20/5).

Ia menilai perusahaan-perusahaan besar kini mulai menyadari bahwa kekuatan tradisional seperti nama besar, aset besar, dan sejarah panjang tidak lagi cukup untuk menjaga dominasi pasar.

Disamping itu, Rhenald juga menyoroti pentingnya transformasi yang lebih mendalam di tubuh perusahaan. Menurutnya, perubahan saat ini tidak bisa hanya dilakukan lewat pergantian produk atau strategi pemasaran semata.

“Transformasi hari ini bukan sekadar ganti produk atau slogan. Tapi membangun ulang kesadaran, cara kerja, dan keberanian untuk belajar ulang,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar dalam dunia bisnis modern justru muncul ketika perusahaan merasa situasi masih aman dan tidak membutuhkan perubahan besar.