Jakarta, GPriority.co.id – Seorang warga Palestina asal Gaza yang kini tinggal dan kuliah di Indonesia, Ahmed Shorafa, tengah menjadi sorotan publik usai mengungkap dugaan praktik penyalahgunaan donasi untuk Palestina di Indonesia.
Hal itu diungkapkan Ahmed melalui video yang diunggah di akun Instagram @ahmed.shorafa1. Namun, saat ini video tersebut telah diturunkan atau dihapus.
Dalam video itu, Ahmed menjelaskan bagaimana sistem donasi dari Indonesia ke Palestina perlahan berubah menjadi ladang bisnis.
“Di video ini aku mau jelasin, gimana sistem donasi yang awalnya buat bantu orang Palestina, pelan-pelan menjadi sebuah bisnis. Jumlah donasi dari Indonesia aja sebenarnya udah cukup buat bikin Gaza jadi kayak Singapura, bahkan tanpa ngitung bantuan dan negara-negara lain,” kata Ahmed.
Ia mengatakan, selama dua tahun terakhir dirinya kerap mendapat tawaran pekerjaan dari sejumlah yayasan untuk meminta donasi di masjid-masjid di Indonesia.
Ahmed mengaku ditawari bayaran fantastis untuk pekerjaan tersebut, yakni Rp1,5 juta per hari.
“Tugasnya cerita tentang penderitaan rakyat Palestina terus minta donasi dan mereka janji bayarnya Rp1,5 juta cuma dalam satu hari saja. Bayangin sebulan gaji aku bisa sampai Rp45 juta,” tuturnya.
Meski ditawari bayaran besar, Ahmed mengaku menolak pekerjaan tersebut karena menurutnya hal itu haram.
“Aku langsung menolak karena itu haram. Masa cuma ngobrol 30 menit di masjid, bikin orang sedih karena Palestina terus aku bayar Rp1,5 juta. Padahal aku udah bukan mahasiswa lagi. Aku baru wisuda dua minggu yang lalu, dan sekarang sebenarnya aku lagi butuh banget pekerjaan. Tqpi aku tetap merasa tenang, karena aku yakin Allah bakal ganti dengan sesuatu yang halal dan lebih baik,” ucap dia.
Lebih lanjut, Ahmed menjelaskan alasan oknum yayasan memilih orang asli Palestina untuk menjalankan pekerjaan tersebut, yakni demi menarik kepercayaan masyarakat terkait penggalangan donasi.
“Kenapa mereka pakai orang Palestina? Biar kalian lebih percaya aja, uang yang kalian donasikan itu niatnya buat beli makanan dan bantu rakyat Palestina yang lagi kelaparan di sana, bukan buat dibagi-bagi dulu disini, baru sisanya dikirim,” jelas Ahmed.
Ia juga menyebut nama Palestina kerap dipakai untuk penggalangan dana karena dianggap mudah menyentuh hati masyarakat Indonesia.
“Kenapa yang dipakai selalu nama Palestina? Karena mereka tahu, Palestina itu salah satu hal yang paling bikin orang Indonesia cepat tersentuh,” imbuhnya.
Ahmed mengaku sempat menasihati sejumlah warga Palestina lain di Indonesia agar meninggalkan pekerjaan tersebut, namun nasihatnya tidak dihiraukan.
Hingga berita ini ditulis, Jumat (22/5), video Ahmed telah dihapus. Ahmed mengaku mendapat ancaman dari pemerintah setelah videonya viral.
“Aku take down videonya karena ada beberapa orang dari pemerintah yang hubungi aku, dan mereka bilang masalah ini bakal ditindaklanjuti. Aku juga sangat berterima kasih atas perhatian dan kepedulian mereka terhadap isu ini,” pungkas Ahmed dalam unggahannya.
