Jakarta, GPriority.co.id – Pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat kunjungan resmi kenegaraan ke Jepang menuai sorotan publik setelah dianggap tidak menggunakan tata bahasa diplomatik yang tepat ketika menyebut nama Naruhito dan Fumihito.
Kritik tersebut ramai dibahas di media sosial usai diunggah oleh pemilik akun Instagram @gunromli, beberapa waktu lalu.
Dalam unggahannya, akun tersebut menilai penyebutan nama Kaisar dan Putra Mahkota Jepang tanpa gelar kehormatan resmi mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap etika diplomatik internasional.
Postingan itu langsung memicu perdebatan luas di media sosial dan menuai ribuan komentar dari warganet.
“Protokol bukan sekadar formalitas basa-basi; ia bahasa penghormatan antarnegara,” tulis akun tersebut dalam keterangannya.
Ia juga menegaskan bahwa pengabaian gelar resmi kepala negara asing, khususnya monarki Jepang yang memiliki sejarah panjang, dapat dianggap sebagai bentuk kecerobohan komunikasi diplomatik.
Dalam penjelasannya, akun tersebut menyebut Kaisar Jepang semestinya dipanggil dengan gelar “His Majesty Emperor Naruhito” atau “Yang Mulia Kaisar Naruhito”. Sementara Putra Mahkota Jepang disebut sebagai “His Imperial Highness Crown Prince Akishino”, bukan menggunakan nama lahirnya, Fumihito.
“Menyebut nama Kaisar Naruhito tanpa embel-embel ‘Yang Mulia’ bukan sekadar menunjukkan keakraban yang dipaksakan, melainkan arogansi linguistik yang memalukan,” tulisnya lagi.
Akun itu juga menyoroti pentingnya pemahaman protokol bagi pejabat tinggi negara. Menurutnya, setiap ucapan pejabat publik membawa representasi resmi negara di mata internasional.
“Diplomasi menuntut presisi, bukan sekadar gaya; dan dalam kasus ini, Seskab Teddy telah gagal memberikan rasa hormat yang menjadi hak dasar mitra internasional kita,” lanjut unggahan tersebut.
