Testis Mengecil, Normal atau Tanda Masalah?

Menurut dr. Egi Edward Manuputty, Sp.U testis mengecil merupakan hal yang biasa terjadi seiring bertambahnya usia pria/Foto : Dok. RS PGI Cikini Menurut dr. Egi Edward Manuputty, Sp.U testis mengecil merupakan hal yang biasa terjadi seiring bertambahnya usia pria/Foto : Dok. RS PGI Cikini

Jakarta, GPriority.co.id – Testis mengecil seiring bertambahnya usia kerap dianggap sebagai perubahan tubuh yang wajar. Namun, benarkah setiap penyusutan ukuran testis merupakan bagian dari proses penuaan?

Perubahan ukuran testis ternyata dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan hormonal hingga kondisi medis tertentu.

Lantas, kapan testis mengecil masih tergolong normal dan kapan justru perlu diwaspadai? Menurut dr. Egi Edward Manuputty, Sp.U dari Primaya Hospital PGI Cikini, memahami perubahan pada testis penting agar pria tidak mengabaikan tanda-tanda yang mungkin membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Berikut hasil wawancara GPriority bersama dr. Egi.

Apakah testis memang mengecil seiring bertambahnya usia?

Ya. Menurut dr. Egi, ukuran testis dapat mengecil secara bertahap sebagai bagian dari perubahan hormonal dan proses penuaan. Secara umum, penurunan ukuran mulai terjadi perlahan setelah usia 30 tahun dan dapat semakin signifikan pada rentang usia 50–70 tahun.

Bagaimana membedakan penyusutan normal dengan kondisi yang perlu dicurigai?

Penyusutan akibat penuaan biasanya berlangsung perlahan, relatif simetris pada kedua testis, serta tidak disertai nyeri atau tanda peradangan. Namun, untuk memastikan penyebabnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan seperti USG skrotum dan pemeriksaan kadar testosteron.

Apa saja penyebab testis mengecil selain faktor usia?

Tidak selalu karena penuaan. Kondisi seperti varikokel, peradangan atau infeksi testis, penurunan hormon testosteron, penggunaan steroid, serta efek kemoterapi dan radioterapi juga dapat menyebabkan ukuran testis berkurang.

Apakah testis mengecil berarti pria menjadi tidak subur?

Tidak otomatis. Testis merupakan organ penting dalam produksi sperma dan testosteron. Jika penyusutan disebabkan kerusakan jaringan testis yang tidak ditangani, produksi sperma dapat ikut menurun sehingga memengaruhi kesuburan. Namun, ukuran testis yang mengecil tidak serta-merta berarti seorang pria tidak subur.

Apakah kondisi ini juga memengaruhi gairah seksual dan ereksi?

Atrofi testis dapat berkaitan dengan penurunan libido dan fungsi ereksi apabila disertai penurunan fungsi testis serta kadar testosteron. Gejalanya dapat berupa berkurangnya gairah seksual, berkurangnya ereksi spontan atau ereksi pagi, hingga kesulitan mempertahankan ereksi.

Meski demikian, dr. Egi menegaskan bahwa testis kecil tidak otomatis berarti testosteron rendah. Begitu pula testosteron rendah bukan satu-satunya penyebab disfungsi ereksi. Proses ereksi turut dipengaruhi pembuluh darah, saraf, kondisi metabolik, obat-obatan, stres, dan faktor psikologis.

Bisakah gaya hidup mempercepat penyusutan testis?

Penggunaan steroid atau hormon dari luar menjadi perhatian khusus karena dapat menekan produksi LH dan FSH. Akibatnya, rangsangan testis untuk menghasilkan testosteron dan sperma berkurang. Kondisi tersebut dapat menyebabkan testis mengecil, testosteron menurun, libido dan ereksi terganggu, serta kesuburan menurun.
Sementara itu, merokok, alkohol, dan obesitas lebih erat berkaitan dengan gangguan pembuluh darah, fungsi ereksi, serta faktor metabolik yang dapat memengaruhi kadar testosteron.

Bisakah ukuran testis kembali membesar?

Dalam banyak kasus, ukuran testis dapat membesar kembali setelah penyebabnya ditangani, tetapi belum tentu kembali persis seperti ukuran semula. Hasilnya bergantung pada penyebab, lamanya penyusutan, usia, dan apakah sudah terjadi kerusakan jaringan permanen.

Bagaimana menjaga kesehatan testis?

dr. Egi menyarankan menghindari steroid anabolik dan testosteron tanpa indikasi medis, menjaga berat badan dan lingkar perut, rutin berolahraga, membatasi alkohol, tidak merokok, menjaga pola makan dan tidur, serta melindungi testis dari cedera dan paparan panas berlebihan.

Seberapa penting pemeriksaan testis secara mandiri?

Pemeriksaan testis mandiri atau testicular self-examination (TSE) dapat membantu mengenali perubahan lebih awal. Pemeriksaan ideal dilakukan setelah mandi ketika kulit skrotum lebih rileks. Periksa masing-masing testis dengan lembut menggunakan ibu jari dan jari tangan, rasakan seluruh permukaan, termasuk bagian belakang testis yang terdapat struktur lunak bernama epididimis, lalu bandingkan kedua sisi.

Segera periksakan diri bila menemukan benjolan keras, testis tiba-tiba membesar atau terasa lebih berat, pembengkakan, nyeri, atau rasa tidak nyaman yang menetap.

5 Tanda Testis Perlu Diperiksa

1. Ada benjolan keras

Benjolan yang terasa keras pada testis perlu diperiksa oleh dokter untuk mengetahui penyebabnya. Jangan mencoba mendiagnosis sendiri hanya berdasarkan bentuk atau ukuran benjolan.

2. Testis tiba-tiba membesar

Perubahan ukuran yang terjadi secara mendadak, terlebih jika disertai rasa berat atau tidak nyaman, bukan sesuatu yang sebaiknya diabaikan.

3. Terjadi pembengkakan

Pembengkakan pada skrotum atau testis dapat berkaitan dengan berbagai kondisi medis sehingga perlu dievaluasi, terutama bila tidak kunjung membaik.

4. Muncul nyeri atau rasa tidak nyaman menetap

Nyeri yang berlangsung terus-menerus atau rasa tidak nyaman pada testis memerlukan perhatian medis. Pemeriksaan dapat membantu menentukan apakah terdapat infeksi, peradangan, varikokel, atau penyebab lainnya.

5. Perubahan terasa berbeda antara kedua testis

Ukuran kedua testis memang tidak selalu sama persis. Namun, apabila muncul perubahan yang baru, semakin jelas, atau disertai keluhan lain, sebaiknya dilakukan pemeriksaan.

Penting sebagai catatan, testis yang mengecil tidak selalu berarti penyakit, begitu pula testis berukuran kecil tidak otomatis menunjukkan testosteron rendah atau infertilitas. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab secara tepat.