Terungkap! Ini 5 Jurusan Kuliah dengan Jumlah Pengangguran Terbanyak di Indonesia

Data LPEM FEB UI menunjukkan bahwa lulusan Manajemen menjadi kelompok terbesar di antara penganggur berpendidikan minimal S1 di Indonesia/Foto : Dok. Freepik Data LPEM FEB UI menunjukkan bahwa lulusan Manajemen menjadi kelompok terbesar di antara penganggur berpendidikan minimal S1 di Indonesia/Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Gelar sarjana tidak selalu menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan.

Data Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa lulusan Manajemen menjadi kelompok terbesar di antara penganggur berpendidikan minimal S1 di Indonesia. Temuan ini ramai dibahas, termasuk melalui unggahan Instagram @englishvit.

Berdasarkan laporan LPEM FEB UI bertajuk Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?, yang mengolah data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025, terdapat lima jurusan kuliah yang paling banyak ditemukan dalam kelompok penganggur lulusan sarjana.

Berikut daftarnya:
1. Manajemen: 10,3 persen
2. Hukum: 9,0 persen
3. Ekonomi: 8,7 persen
4. Pendidikan: 7,1 persen
5. Akuntansi: 5,1 persen.

Kelima bidang studi tersebut secara keseluruhan mencakup sekitar 40 persen dari kelompok penganggur berpendidikan minimal S1. Namun, angka tersebut merupakan proporsi bidang studi di antara penganggur sarjana, bukan persentase seluruh lulusan masing-masing jurusan yang menganggur.

Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Manneke Budiman, menilai fenomena ini berkaitan dengan anggapan masyarakat mengenai prospek kerja jurusan tertentu.

“Saya pikir karena akibat salah kaprah. Masyarakat itu masih mengira kalau orang belajar manajemen, ilmu hukum, itu udah jaminan kaya,” ungkap Manneke kepada detikEdu pada Selasa (11/8).

Menurutnya, peluang kerja juga dipengaruhi ketersediaan posisi dan kebutuhan profesi. Ia mencontohkan profesi hakim dan jaksa yang bergantung pada formasi aparatur sipil negara (ASN).

“Tidak ada ilmu yang kebal terhadap kondisi ekonomi yang tidak pasti, yang naik turun atau yang cenderung menuju ke arah krisis,” tegas Manneke.

Selain jumlah lulusan yang besar, persaingan pada posisi pekerjaan tingkat awal juga menjadi tantangan. Lulusan Manajemen, misalnya, dapat bersaing dengan lulusan Ekonomi, Hukum, Komunikasi, dan bidang lain untuk mendapatkan pekerjaan.

Fenomena serupa juga terlihat di Amerika Serikat. Data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan bahwa tingkat pengangguran lulusan baru berbeda-beda menurut jurusan. Dalam data 2024 yang dirangkum sejumlah media, Ilmu Gizi dan Jasa Konstruksi termasuk bidang dengan tingkat pengangguran rendah, sedangkan Antropologi dan Fisika menghadapi tingkat pengangguran lebih tinggi.

Karena menggunakan negara, periode, dan kategori pendidikan yang berbeda, data Amerika Serikat tidak dapat dibandingkan langsung dengan proporsi penganggur sarjana di Indonesia.

Cara Meningkatkan Peluang Kerja Lulusan Sarjana

Pencari kerja dapat memperkuat daya saing melalui kemampuan bahasa Inggris, keterampilan digital, komunikasi, analisis data, pemecahan masalah, serta pengalaman magang atau proyek profesional.

Pada akhirnya, pilihan jurusan tetap penting, tetapi kesiapan keterampilan, pengalaman, dan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri juga menentukan peluang seseorang memasuki dunia kerja.