Jakarta,GPriority.co.id-Ikan-ikan Indonesia diminati oleh pangsa pasar luar negeri.
Demi memenuhi permintaan perikanan dari luar negeri,PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk. (ASHA) berupaya meningkatkan produktivitas perikanan.
Untuk itulah pada Jum’at siang (5/8/2022), ASHA melakukan MoU dengan Norwegian Engineers and Architects AS (NAS) terkait rencana implementasi teknologi termutakhir akuakultur di Indonesia.
MoU ditandatangi langsung oleh komisaris utama ASHA, Asman dengan Direktur Utama NAS, Svein Gunnar Endresen serta disaksikan oleh Direktur Utama ASHA, William Sutioso dan Representatif NAS di Indonesia, Widya Utama.
Sebelum melakukan MoU, William menjelaskan alasannya menggandeng NAS dalam meningkatkan produktivitas perikanan.” Kami sengaja bekerjasama dengan pihak NAS karena mereka sudah terdepan dalam hal teknologi budidaya perikanan. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia terkenal dengan salmon norwey, akan tetapi, kita tidak bisa membudidayakannya di negara tropis. Meskipun demikian, kita dapat mengadopsi teknologi Norwegia untuk mengembangkan budidaya ikan di negara tropis,” kata William.
Tak hanya teknologinya saja, NAS seperti dituturkan Wiiliamakan mengirim para ahli untuk melakukan feasibility studies terkait akuakultur di Indonesia. Lebih detail, para peneliti akan menerapkan akuakultur dengan system closed-loop, yaitu system pembudidayaan komoditas perikanan di darat dengan metode ruang tertutup.
William menegaskan, “Dengan menerapkan (closed-loop) system ini, bio-security dapat dikontrol. Berbeda dengan budidaya di lepas pantai yang jauh lebih riskan mengingat banyak faktor eksternal yang tidak dapat kita kontrol.”
Langkah ini juga jauh dianggap ramah lingkungan karena limbah sisa budidaya (bio-waste) dapat dikontrol sehingga mengurangi pencemaran lingkungan.
Kajian tersebut rencananya akan dilakukan di daerah Lombok di atas lahan seluas 30 hektar. Area ini sengaja dipilih mengingat sanitasi air di wilayah tersebut masih bersih serta jauh dari lingkungan pabrik. Dengan adanya perlakuan tersebut, Perseroan berharap dapat menghasilkan ikan berkualitas tinggi dengan jumlah produktivitas yang besar.
William berharap pengadopsian teknologi NAS dapat mengurangi hambatan proses budidaya perikanan dari segi infrastruktur. Adapun komoditas yang akan dibudidayakan, yakni udang vaname, ikan baramundi, dan lobster.
Sebagai representatif dari Norwegian Engineers and Architects AS di Indonesia, Widya Utama, mengatakan, “Dengan menggunakan teknologi NAS untuk sektor perikanan, Indonesia bisa menjadi role model dalam budidaya ikan yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan harapan Bank Dunia agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan komoditas perikanan di seluruh dunia.”
Terkait implementasi teknologi NAS, ASHA berharap proses instalasi infrastruktur yang akan digunakan dapat rampung pada Q4 2023 sehingga proses produksi dapat dilakukan pada awal 2024. Proyeksi produksi akuakultur ini ditargetkan mencapai 3.000-5.000 ton dengan kualitas premium yang akan difokuskan untuk pemenuhan permintaan pasar Eropa dan Amerika.
Widya juga menegaskan langkah ini perlu ditempuh untuk meningkatkan hasil produksi. Menurutnya, tanpa implementasi akuakultur jumlah produksi perikanan akan stagnan sehingga tidak dapat mengimbangi peningkatan permintaan pangan yang diprediksi mencapai 70% di tahun 2030 mendatang.
Di samping itu, penerapan teknologi akuakultur di Indonesia juga dapat mengatasi masalah kualitas komoditas perikanan yang kurang baik. Dalam pernyataannya, Widya menjelaskan bahwa Indonesia adalah produsen terbesar ke-4 penghasil udang vaname, sayangnya kualitasnya dinilai masih kurang baik.
” Dengan adanya penerapan Recirculating Aquaculture System (RAS) di dalam kolam dengan kontrol kebersihan air yang selalu dijaga, komoditas perikanan yang dibudidayakan dapat tumbuh dengan sehat. Apabila teknologi ini berhasil diimplementasikan, Widya optimis Indonesia dapat menjadi penghasil ikan baramundi atau asian salmon berkualitas premium,” tutupnya.(Hs.Foto.Hs)
