Jakarta, Gpriority.co.id – Setiap daerah pesisir di Indonesia memiliki kearifan lokal akan bencana tsunami. Kearifan lokal tersebut harus dijaga bahkan dikembangkan sebagai bentuk mitigasi bencana ala Indonesia.
Dua puluh tahun lalu tepatnya, 26 Desember 2004 bencana alam terbesar dalam peradaban modern yakni tsunami Aceh terjadi. Tsunami terjadi akibat gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,1-9,3 skala Richter yang mengguncang dasar Samudra Hindia, tepatnya sekitar 150 kilometer dari pesisir barat Aceh.
Sesaat setelahnya gelombang tsunami setinggi 30 meter menghantam wilayah Aceh dan sekitarnya. Gelombang tinggi juga menyerang Thailand, Malaysia, hingga India dan Srilanka. Ribuan orang meregang nyawa akibat tsunami tersebut. Ribuan lainnya juga menderita luka berat dan cacat fisik serta harus kehilangan tempat tinggal juga harta benda.
Dibalik bencana tsunami Aceh, terdapat satu wilayah di Provinsi ujung barat Indonesia tersebut yang minim dalam jumlah korban jiwa. Wilayah itu bernama Pulau Simeulue. Di Pulau yang memiliki jumlah populasi 78 ribu jiwa itu tercatat kurang lebih 10 orang korban jiwa akibat tsunami Aceh. Jumlah ini tercatat paling sedikit dibanding wilayah Aceh lainnya. Padahal Pulau Simeulue berada dekat dari pusat gempa.
Ditilik lebih jauh, ternyata masyarakat Pulau Simeulue memiliki kearifan lokal bernama ‘Smong.’ Ya, kearifan lokal Smong dipercaya banyak pihak yang menyelamatkan masyarakat Pulau Simeulue. Smong sudah ada sejak 1907, masyarakat Simeulue sejak dahulu telah menyampaikannya melalui manafi-nafi (cerita rakyat), mananga-nanga (lagu pengantar tidur) dan nandong (bersenandung). Kearifan lokal yang disampaikan secara turun menurun ini sangat efektif ketika belum ada sistem peringatan dini terhadap ancaman bencana tsunami di pulau tersebut.
Selain masyarakat Simeulue, masyarakat Pariaman, Sumatera Barat juga terdapat tradisi “hoyak tabuik” (prosesi mengguncang patung Tabot), adanya penanaman tanaman cemara dan mangrove di pesisir pantai, serta keyakinan akan terlindungi oleh pulau-pulau kecil di sekitar laut Kota Pariaman. Tradisi yang dilakukan masyarakat Kota Pariaman ini sebagai antisipasi dalam mitigasi bencana tsunami dan gempa bumi di kota pariaman.
Sementara dalam khasanah masyarakat Sunda pun ada istilah Caik Naik yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah ‘air naik’. Termasuk Sagara Saba Darat memiliki arti, air yang tumpah ke darat. Dikisahkan saat tsunami menerjang Pantai Pangandaran pada tahun 2006 lalu, orang lokal mengatakan Caik Naik atau Banjir Laut. Disamping itu, sesaat sebelum tsunami menerjang, 15 menit sebelumnya, binatang seperti rusa dan kera sudah lebih dahulu lari ke daratan tinggi. Bahkan 70 tahun sebelum tsunami terjadi pada 2006, masyarakat sudah tinggal jauh dari pesisir karena kerap terjadinya ‘banjir laut.’ Sayang atas nama pariwisata, hunian dan lokasi wisata kini semakin mepet dengan pantai.
Membaca fenomena alam seperti hewan liar yang pergi ke dataran tinggi diterapkan pula oleh masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur saat terjadi bencana tsunami pada tahun 1994.
Masyarakat Desa Sarongan, Banyuwangi, biasa membaca tanda-tanda tsunami jika adanya ikan-ikan terdampar atau minggir di tepi pesisir. Fenomena ikan minggir ini dipercaya karena di dalam laut sedang terjadi peristiwa tak biasa. Kearifan lokal terkait tsunami yang juga masih dipercaya oleh masyarakat Banyuwangi, ialah air laut yang berbau lebih tajam dan menyengat dari hari-hari biasanya.
Termasuk bunyi gemuruh sebagai pertanda tsunami. Dalam tsunami Mentawai tahun 2010 dan tsunami Gunung Anak Krakatau 2018, para penyintas sempat mendapatkan peringatan pendek dari bunyi gemuruh seperti pesawat yang terdengar beberapa menit sebelum tsunami sampai di pantai.
Sebagai informasi, hingga kini belum ada teknologi yang bisa memprediksi dengan pasti kapan, di mana, dan seberapa besar suatu gempa akan terjadi. Dalam suatu kesempatan, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Mego Pinandito, menyebutkan bahwa pengetahuan lokal Aceh atau Smong dapat menjadi contoh praktik mitigasi bencana yang dapat diadopsi secara internasional.
Foto : Wikipedia
