Jakarta, GPriority.co.id– PT Bank Syariah Indonesia Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp 7,01 triliun pada 2024. Adapun realisasi ini tumbuh 22,38 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi mengatakan kinerja impresif tersebut merupakan impact dari implementasi strategi 2024. Pertama, perusahaan fokus memperbaiki infrastruktur transaction banking dengan meluncurkan BYOND by BSI dan memperbanyak mesin ATM/CRM, EDC, BSI Agent, serta merchant QRIS.
Kedua, menggali potensi bisnis model yang baru yakni bisnis berbasis emas, tabungan haji, bancassurance, dan bisnis treasury.
“Alhamdulillah, kinerja yang dicapai menggembirakan bahkan melebihi ekspektasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. BSI, setiap tahun sejak lahir hingga saat ini, selalu tumbuh di atas pertumbuhan industri,” ujar Hery saat konferensi pers, Kamis (6/2).
Tak hanya laba bersih, menurut Hery, perusahaan mencatat semua indikator keuangan lain rerata tumbuh double digit mulai dari dana pihak ketiga, pembiayaan, dan aset perusahaan. Fokus pada pembiayaan yang berkualitas, transformasi digital dan inovasi menjadi kunci perusahaan menjaga kinerja yang impresif di tengah dinamika kondisi perekonomian.
Menurut Hery 2024 merupakan periode menantang kondisi ekonomi global masih diliputi ketidakpastian, dengan likuiditas yang ketat dan persaingan pasar yang tinggi. Di tengah kondisi itu, perusahaan mempertahankan fokus agile dan inovatif melalui transformasi digital serta menjaga pertumbuhan pembiayaan yang berkualitas.
Di tengah ketatnya kompetisi likuiditas sektor perbankan, perusahaan mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 11,46 persen menjadi Rp 327,45 triliun. Pencapaian ini ditopang oleh dana murah dengan rasio 60,12 persen dari total dana pihak ketiga.
Sepanjang 2024, dana murah sebesar Rp 197 triliun atau naik 10,65 persen. Tercatat, dana pihak ketiga dari produk-produk tabungan sebesar Rp 140,53 triliun, disusul deposito sebesar Rp 130,58 triliun, dan giro sebesar Rp 56,33 triliun.
“Kami mengambil peluang dengan memanfaatkan potensi Islamic ecosystem yang hanya dimiliki oleh bank syariah. Salah satunya lewat bisnis emas dan haji. Inovasi dan transformasi digital yang memudahkan transaksi secara digital juga turut berdampak positif terhadap penghimpunan DPK,” ujar Hery.
Pada 2024, perusahaan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 278,48 triliun atau tumbuh 15,88 persen. Berdasarkan segmen, pembiayaan yang disalurkan ke segmen wholesale sebesar Rp 77,22 triliun atau tumbuh 14,38 persen, disusul segmen ritel senilai Rp 49,38 triliun (naik 16,86 persen). Selain itu, pembiayaan segmen konsumer sebesar Rp 151,88 triliun atau naik 16,34 persen.
“BSI ini punya demand side yang luar biasa kuat, maka itu kami terus meningkatkan dan memperbaiki sisi supply. Supply ini merupakan dari sisi produk hingga distribution channel, tidak hanya cabang tetapi juga elektronik channel seperti ATM, mobile banking, QRIS dan lainnya,” kata Hery.
Pengelolaan pembiayaan secara tepat berimbas pada membaiknya kualitas pembiayaan yang disalurkan. Pada 2024, rasio pembiayaan bermasalah gross membaik menjadi 1,90 persen, cost of credit juga membaik berada level 0,83 persen.
Bagi pemilik saham, perusahaan juga mencetak rasio imbal hasil menarik, yang terlihat dari angka return on equity sebesar 17,77 persen. Pada 2024 dengan kenaikan aset sebesar 15,55 persen menjadi Rp 408,61 triliun. Adapun rasio return on asset berada level 2,49 persen.
“Sejumlah indikator keuangan lainnya menunjukan pencapaian kinerja yang tidak kalah solid, yang menopang pencapaian bottom line,” ucap Hery.
Adanya capaian kinerja sepanjang 2024, Bank Syariah Indonesia menjadi salah satu jajaran Top 10 Bank yang mencatatkan pertumbuhan kinerja tertinggi. Pencapaian laba yang tinggi tidak terlepas dari pengelolaan dana pihak ketiga yang tepat serta pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang tepat dan sustain.
Foto: Dok. Bank Syariah Indonesia
