Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam beberapa tahun terakhir melakukan revitalisasi trotoar menggunakan beton. Trotoar lama yang umumnya menggunakan paving block pun dibongkar. Banyak pertanyaan terkait revitalisasi trotoar tersebut.
Kebijakan revitalisasi menggunakan beton yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dilakukan sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang publik yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Maksud lain dari kebijakan itu juga untuk meningkatkan interaksi sosial dan produktivitas warga. Termasuk mendorong penggunaan angkutan publik serta memperbaiki drainase dan mengurangi risiko banjir.
Revitalisasi trotoar di Jakarta sudah dilakukan sejak tahun 2016. Program ini terus digencarkan dengan target peningkatan panjang trotoar yang direvitalisasi setiap tahunnya.
Sebagai gambaran, pada 2016 revitalisasi trotoar menyelesaikan panjang 48 kilometer. Pada 2017 dilakukan sepanjang 79 kilometer. Adapun 2018 sepanjang 92 kilometer. Sementara pada 2019 sepanjang 99 kilometer. Kemudian tahun 2020 sepanjang 47 kilometer. Data tahun 2024 revitalisasi trotoar dilakukan pada sejumlah titik, seperti di Jalan H Bokir yang ditargetkan selesai pada November 2024, dan di Pancoran Glodok yang telah rampung sejak akhir tahun lalu.
Trotoar lama yang umumnya terbuat dari paving block diganti dengan menggunakan beton. Ukuran trotoar lama pun tidak menjadi acuan lagi. Dalam revitalisasi, lebar trotoar menjadi bertambah yang otomatis mengurangi ukuran jalan. Banyak juga pohon-pohon besar yang harus dikorbankan dalam revitalisasi trotoar.
Air Tidak Terserap Tanah
Perlu diketahui betonisasi trotoar bisa mengganggu daur air sebab menghalangi air meresap ke dalam tanah. Dengan kata lain mengurangi jumlah air tanah yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Disamping itu, betonisasi juga dapat meningkatkan risiko banjir karena air hujan tidak dapat terserap ke tanah dan tergenang di permukaan jalan.
Saat curah hujan tinggi hal itu tentu menjadi masalah tersendiri. Ini terbukti saat awal tahun 2025 dimana Jakarta kebanjiran. Pemprov DKI Jakarta memang memiliki ribuan sumur resapan, namun tak berdaya menghadapi curah hujan yang tinggi saat itu. Kita juga tidak pernah tahu apakah sumur resapan tersebut sudah dirawat dengan baik. Khususnya menghadapi penumpukan lumpur atau salurannya tersumbat. Akibatnya air mengalir liar. Ketika sungai melebihi daya tampungnya, otomatis air menyerbu ke rumah-rumah warga dan jalanan yang lebih rendah.
Paving Block Masih Dibutuhkan
Penggunaan paving block untuk trotoar memang tidak seindah betonisasi dan membutuhkan pemeliharaan ekstra. Namun paving block paling tidak mempunyai celah-celah yang dapat membantu air meresap ke dalam tanah, sehingga dapat mengurangi genangan air di trotoar.
Disisi lain, permukaan paving block lebih stabil dan mengurangi risiko terpeleset dibandingkan dengan permukaan aspal atau beton yang licin. Paving block pun relatif mudah dibersihkan dan dirawat, sehingga dapat mempertahankan keindahan dan kebersihannya.
Trotoar Lebar Disalahgunakan
Terkait melebarnya trotoar setelah revitalisasi juga menjadi persoalan tersendiri. Alih-alih digunakan untuk pejalan kaki, pedagang kaki lima dan pengendara roda dua malah mendominasi trotoar yang telah direvitalisasi. Banyak pedagang memanfaatkan trotoar yang lebar untuk berdagang serta parkiran kendaraan roda dua atau menjadi lintasan pengendara roda saat jalanan macet. Macet memang kerap terjadi mengingat luas jalan berkurang karena revitalisasi trotoar.
Tanaman, Sumber Oksigen dan Penyerap Air
Sementara terkait berkurangnya tanaman besar akibat revitalisasi trotoar juga patut disayangkan. Tanaman selain sebagai penghijauan dan penyerap karbon juga memiliki fungsi lain sebagai penyerap air. Air hujan yang jatuh dan masuk ke tanah akan diserap oleh akar tanaman terlebih dahulu. Akar juga mencegah longsornya tanah. Namun air hujan yang turun tidak akan terserap jika permukaan tanah dilapisi beton.
Kenyataan-kenyataan tersebut membuat dilema betonisasi trotoar yang semakin meningkatkan ancaman banjir. Apalagi untuk tahun ini (2025) BMKG memprediksi bahwa musim kemarau 2025 akan lebih pendek dari biasanya, dan musim hujan akan lebih panjang. Ini berarti sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan normal hingga di atas normal selama musim kemarau.
Fabian Agra Setiawan, Mahasiswa Domisili di Jakarta Pusat
Foto : Pemkot Jakpus
