Jakarta, GPriority.co.id – Tidak dapat dipungkiri, kini mencari pekerjaan kian susah. Terlebih, di zaman dengan perekonomian yang tidak stabil seperti saat ini. Tak heran jika tingkat pendidikan begitu diperhatikan, termasuk salah satunya soal pemilihan jurusan saat kuliah.
Mencengangkannya, saat ini jurusan kuliah yang dahulu dianggap ’emas’ atau dibangga-banggakan seperti ilmu komputer saja, masuk ke dalam urutan 10 jurusan kuliah dengan tingkat pengangguran tertinggi.
Dilansir dari data The Federal Reserve Bank of New York pada Selasa (3/6), menunjukkan jika jurusan ilmu komputer saat ini menempati peringkat ke-7 sebagai jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi sebesar 6,1 persen.
Dari data tersebut juga menunjukkan jika teknik komputer lebih tinggi lagi di angka 7,5 persen. PHK massal bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga di perusahaan teknologi besar seperti Amazon dan Google.
Kedua perusahaan tersebut juga memperketat peluang kerja bagi lulusan baru. Disisi lain, jurusan lainnya seperti ilmu gizi dan teknik sipil juga masuk dalam daftar, meski tingkat penganggurannya jauh lebih rendah.
Selain ilmu komputer, berikut ini daftar 10 jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi (data The Federal Reserve Bank of New York) :
1. Seni rupa,
2. Filsafat,
3. Sosiologi,
4. Ilmu Keluarga dan Konsumen,
5. Media massa,
6. Bahasa,
7. Teknik Dirgantara,
8. Ilmu Komputer,
9. Kebijakan Publik dan Hukum,
10. Hubungan Internasional.
Sebenarnya, apa yang jadi penyebab dari tingginya tingkat pengangguran ini?
Masih dikutip dari laporan yang sama, hal tersebut dipicu oleh adanya ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan industri, begitupun dengan ketergantungan pasar kerja pada latar belakang institusi daripada kemampuan riil seorang lulusan sarjana.
Dilansir dari Laporan Oxford Economics, disebutkan jika lulusan baru menyumbang 12 persen dari peningkatan pengangguran AS sejak pertengahan 2023, kendati hanya 5 persen dari total angkatan kerja.
Lebih lanjut, para ahli juga menggarisbawahi bahwa bidang ilmu komputer sangat rentan terhadap otomatisasi, sehingga hal ini semakin memperburuk prospek pekerjaan jangka panjang.
Ketimpangan ini paling terasa di sektor teknologi, meski perkembangan teknologi dan kecerdasan semakin pesat, namun kelebihan pasokan tenaga kerja disaat permintaan pasar justru menurun.
Foto : Ilustrasi/Dok. Getty Images
