Jawa Barat, GPriority.co.id – Pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menuai kontroversi. Dirinya menyamakan rakyat dengan koruptor.
Dedi mengatakan, sebenarnya rakyat memiliki sifat yang sama seperti politisi korup. Hal ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam sebuah seminar di Universitas Padjajaran.
“Rakyat ini sama dengan kita. Sama buasnya, sama serakahnya. Bedanya tingkatan kekuasannya,” ujar Dedi seperti dilansir dari video yang viral beredar di Instagram pada Sabtu (23/8) lalu.
Ia mengatakan jika pandangannya tersebut berdasarkan pengalaman yang ia saksikan langsung selama bertahun-tahun hidup bersama rakyat. Sehingga Dedi merasa paham betul akan karakter mereka.
Lebih lanjut Dedi mencontohkan berbagai kasus penyalagunaan fasilitas yang telah diberikan pemerintah. Misalnya saja seperti masyarakat yang mengambil lebih dari haknya, atau bahkan menyewakan kembali fasilitas gratis yang diberikan untuk keuntungan pribadinya.
“Ketika dikasih lapak satu, mereka ambilnya lima. Saya pernah kasih pasar gratis, pasar yang dia punya disewakan. Terus dia dagang di trotoar,” ungkapnya.
Dari pengalamannya tersebut, Dedi kemudian menyimpulkan jika bibit korupsi serta nepotisme, sebenarnya ada pada semua lapisan masyarakat dan bukan hanya pada kalangan politisi tanah air.
“Jadi sifat korupsi, nepotisme, bukan hanya miliki politisi kaya saya, Dedi Mulyadi. Tapi juga (banyak) rakyat yang memiliki karakter itu,” tegasnya.
Dedi turut menekankan jika persoalan korupsi dan nepotisme merupakan masalah yang sudah mendarah daging dan harus diperbaiki bersama-sama. Dimulai dari politisi hingga masyarakatnya.
Pernyataan Dedi sontak memicu perdebatan di media sosial, terlebih di tengah kasus Wamenaker (Wakil Menteri Ketenagakerjaan), Immanuel Ebenerzer (Noel). Dirinya terkena OTT KPK pada Rabu (20/8) dan diduga terlibat pada kasus pemerasan pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berbagai perusahaan.
