Kisah Jurnalis Palestina yang Mengabarkan Kebenaran dan Berakhir dengan Kematian

Gaza, Gpriority.co.id – Sudah 245 jurnalis di Palestina meregang nyawa selama 22 bulan meliput genosida yang dilakukan Zionis Israel. Terakhir adalah serangan Zionis Israel yang menyasar Rumah Sakit Nasser di Gaza dan mengakibatkan kematian 5 jurnalis.

Dalam serangan ke Rumah Sakit Nasser di Gaza itu, sebanyak 16 warga Palestina tewas, termasuk 5 jurnalis yang berkemah di lokasi dan tanpa lelah melaporkan agar dunia menyaksikan genosida oleh Zionis Israel.

Kelima jurnalis yang meregang nyawa akibat serangan Zionis Israel itu adalah Mariam Abu Dagga, Hussam Al Masri, Mohammed Salama, Moaz Abu Taha dan Ahmed Abu Aziz.

Dua serangan menghantam lantai empat dan lantai atas gedung darurat di Rumah Sakit Nasser, yang merupakan tempat berkumpul bagi para jurnalis, petugas pemadam kebakaran, dan pasien. Bom kedua menghantam tempat yang sama dengan yang pertama.

Maryam Abu Dagga, jurnalis foto yang bekerja untuk AP dan Independent Arabia, ketika itu tengah naik ke gedung darurat Rumah Sakit itu untuk mendokumentasikan pemboman Israel yang mendadak sebuah serangan udara Israel menghantam gedung tersebut, merenggut nyawanya.

Maryam memang kerap melaporkan perjuangan para dokter Palestina untuk menyelamatkan anak-anak dari kelaparan di Jalur Gaza. Hasil laporannya digunakan para sejawatnya di Eropa untuk menekan pejabat Uni Eropa agar segera turun tangan terhadap genosida yang dilakukan Zionis Israel.

Hussam al-Masri yang bekerja untuk Reuters disaat yang sama sedang mengoperasikan siaran video langsung di atap Rumah Sakit Nasser juga tewas akibat serangan itu.

Al Jazeera juga melaporkan, Mohammad Salama, jurnalis foto dan juru kameranya tewas. Salama sendiri diketahui sesaat lagi akan menikahi wanita pujaan hatinya. Sementara Moaz Abu Taha yang sebelumnya memvideokan anak-anak Palestina yang menderita luka parah dan kekurangan gizi dalam instagramnya pun ikut meregang nyawa. Adapun Ahmed Abu Aziz terluka dalam serangan itu tetapi kemudian meninggal dunia.

Kematian lima jurnalis dalam genosida selama 22 bulan ini menambah catatan brutal Zionis Israel. Tercatat sudah 245 orang jurnalis tewas selama masa itu. Ini adalah jumlah kematian jurnalis terbesar dalam konflik modern. Zionis Israel seolah sengaja menargetkan para jurnalis untuk menghentikan informasi dari Palestina.

Dugaan ini bukan tanpa alasan, setelah sebelumnya beberapa negara, kelompok hak asasi manusia, PBB, OKI, dan organisasi media mengutuk serangan gencar Israel terhadap jurnalis di Palestina. Namun hingga hari ini Zionis Israel terus mengulanginya lagi seakan mengabaikan seruan internasional.

Foto : TRTWORLD FB