Jakarta, GPriority.co.id – Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Letjen TNI (Purn) Nugroho Sulistyo Budi, menjelaskan sistem pengawasan yang dilakukan lembaganya terhadap perkembangan teknologi dan keamanan digital di Indonesia.
Menurut Nugroho, BSSN secara rutin memantau berbagai kerentanan di ruang digital nasional. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sekitar 90 persen ancaman siber yang terdeteksi merupakan serangan malware.
“Dari pendeteksian dari sekarang ini, secara sebagian besar, kurang lebih 90% itu, kerentanan yang terjadi itu ancaman serangan malware. Kemudian berikutnya itu ancaman serangan DDoS. Kemudian berikutnya ada upaya untuk melaksanakan akses tidak sah atau misconfiguration sistem. Ada exploit. Tapi ancaman malware itu yang paling kentara,” ucap Nugroho kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/10).
Nugroho menambahkan, hal yang paling di waspadai oleh BSSN yakni munculnya celah untuk melakukan serangan dengan menggunakan social engineering atau rekayasa sosial.
Menurut dia, serangan rekayasa sosial sangat berbahaya, karena yang menjadi target bukan sistemnya melainkan personal pengguna.
“Yang diserang bukan sistemnya, bukan tata kelolanya, tapi personelnya. Melalui seperti, misalnya phishing. Apalagi phishing sekarang dengan teknologi AI yang sudah generasi sekarang, mudah sekali memanipulasi perilaku target,” ucapnya.
“Dalam saat sekarang ini apa yang namanya ‘Papa minta pulsa’ saja masih ada yang kena. Apalagi kalau sudah menggunakan modus AI. Itu juga luar biasa,” tambah Nugroho.
Sebagai langkah pencegahan, Nugroho menekankan pentingnya membangun kesadaran dan budaya keamanan digital.
“Nah, awareness, kepedulian, budaya keamanan itu perlu dibangun. Jadi, tidak hanya bicara tentang teknologinya. Kalau teknologinya itu kan penerapan firewall, penerapan enkripsi, penerapan antivirus. Kalau tata kelolanya ada standarisasinya, ada SNI. Nah, orangnya ini, orang juga harus dikelola dengan baik” pungkasnya.
