Soal Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Salahkan Petani

Soal Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Salahkan Petani/Foto : Dok. BGN Soal Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Salahkan Petani/Foto : Dok. BGN

Jakarta, GPriority.co.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, belum lama ini membuka suara terkait kasus keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) yang terjadi secara massal pada sejumlah daerah.

Dadan menyebut, penyebab utama dari kasus keracunan MBG ialah kandungan nitrit berlebih pada bahan pangan di wilayah Garut, Cianjur, Bandung Barat, serta Sleman, yang merupakan daerah endemik dengan kadar nitrit tinggi karena penggunaan pupuk nitrogen berlebih oleh para petani.

“Masalah (keracunan MBG) paling banyak ditemukan di Jawa Barat. Garut, Cianjur, Bandung Barat, dan Sleman. Ini termasuk daerah endemik nitrit tinggi. Kemungkinan karena petani memberikan nitrogen terlalu banyak, sehingga tanaman ikut menyerap nitrit secara berlebih,” jelas Dadan.

Zat nitrit disebut mencemari air, buah, dan sayuran, hingga membuat tiga anak penerima manfaat MBG di Bandung Barat mengalami gangguan pencernaan usai mengonsumsi melon.

Menurut data yang beredar, Jawa Barat merupakan wilayah dengan kasus keracunan MBG tertinggi. Secara nasional, ditemukan 11.640 korban keracunan dari total 211 kejadian yang mencakup 48 persen kasus pangan nasional.

Guna mencegah kasus serupa ke depannya, BGN akan memperketat pengawasan bahan baku pada tingkat pertani serta berupaya mengawasi sistem kontrol dapur umum MBG.

Walaupun saat ini pemerintah menghadapi tantangan serius dalam menjalankan program MBG, namun Dadan memastikan bahwa program ini akan tetap berjalan. Hingga saat ini 1,8 milliar porsi makanan bergizi gratis telah dibagikan untuk anak sekolah, ibu hamil, menyusui, hingga balita di seluruh wilayah Indonesia (periode Januari-November 2025), sebut Dadan.

Dadan pun meminta publik tidak perlu khawatir dengan berita terkait keracunan MBG yang beredar. Saat ini BGN juga tengah memperluas pembangunan 8.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terpencil.

Menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), pihak BGN perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh. Pasalnya kasus keracunan ini juga menimpa guru, orang tua, balita, hingga ibu hamil.

Data JPPI mencatat kasus keracunan MBG mencapai 16.109 orang, terhitung sejak Januari hingga Oktober 2025 lalu. Lonjakan kasus keracunan MBG diketahui terjadi pada bulan Oktober dan memakan 6.823 korban.