Jakarta, GPriority.co.id – Pusat Riset Kewilayahan (PRW) BRIN menyelenggarakan seminar reflektif perjalanan dua dekade kajian wilayah pada Selasa (2/12) di Jakarta.
Seminar ini menjadi ruang untuk meninjau kembali perkembangan metodologi area studies sejak LIPI, hingga transformasinya dalam struktur BRIN. Selain itu, seminar ini juga membaca relevansi kajian wilayah dalam memahami dinamika identitas, modernitas, serta globalisasi.
Menurut Kepala PRW BRIN, Fadjar Ibnu Thufail, momentum refleksi dua dekade ini sangat penting bagi penguatan arah kajian wilayah di Indonesia. Ia menyampaikan, perubahan dunia yang semakin terhubung menuntut kita memaknai wilayah sebagai ruang relasi, bukan semata batas teritorial.
“Pendekatan transnasional membuka cara pandang baru untuk membaca dinamika mobilitas manusia, ide, dan kebudayaan dengan lebih utuh. Melalui seminar ini, kami ingin mempertegas arah metodologis PRW BRIN agar lebih adaptif dan kontekstual dalam memahami perubahan global,” ujar Fadjar.
Kajian wilayah di Indonesia memiliki akar panjang dalam tradisi multidisipliner sejak pengembangan Program Studi Asia Tenggara pada 1970–1990-an di lingkungan LIPI. Pemikiran tersebut kemudian dilembagakan menjadi Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (PSDR) pada 2001, sebelum berkembang menjadi P2W-LIPI, dan akhirnya PRW BRIN setelah peleburan LIPI ke dalam BRIN pada 2021.
Selama perkembangannya, kajian wilayah dibangun berdasarkan pembagian geografis, seperti Asia Tenggara, Asia-Pasifik, dan Eropa.
“Namun, seiring perkembangan wacana global yang menekankan mobilitas lintas negara, konsep “wilayah” diredefinisikan menjadi ruang relasi transnasional yang lebih dinamis, sehingga mendekatkan area studies Indonesia pada pendekatan yang lebih relevan dengan pergerakan manusia, ide, budaya, dan infrastruktur global,” jelas Fadjar.
Seminar ini menghadirkan empat narasumber yang memiliki peran penting dalam pengembangan kajian wilayah. Dr. Amin Mudzakkir akan mengulas refleksi pemikiran Prof. Dr. Yekti Maunati dari perspektif antropologi dan sejarah.
Dr. Goh Beng Lan dari NUS membahas perkembangan Kajian Asia Tenggara dari country studies menuju mobility studies. Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto memetakan arah kajian wilayah di Indonesia di tengah pergeseran paradigma global.
Sementara itu, Dr. Ahmad Helmy Fuady dari PRW BRIN menguraikan perkembangan serta tantangan metodologis kajian wilayah di Indonesia dalam menghadapi dinamika kontemporer. Seluruh rangkaian diskusi dipandu oleh Dr. Bondan Widyatmoko.
Selain diskusi ilmiah, kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran buku “Identitas yang Cair: Refleksi Antropologi, Diaspora, dan Kajian Wilayah” sebagai bentuk penghormatan terhadap dua tahun kepergian Prof. Dr. Yekti Maunati.
Peluncuran buku berlangsung di lokasi yang sama sebagai bagian integral dari agenda seminar dan semakin memperkuat nuansa reflektif sekaligus regeneratif dari kegiatan ini.
Dengan terselenggaranya seminar ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi BRIN dalam pengembangan kajian wilayah melalui dialog akademik yang mendalam dan reflektif.
“Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperluas pemahaman mengenai transformasi area studies serta meningkatkan peran Indonesia dalam lanskap ilmu pengetahuan global,” pungkas Fadjar.
