Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama merupakan sahabat vital yang menata totalitas kehidupan manusia. Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas tinggi terhadap agama juga dapat menimbulkan tantangan apabila tidak dikelola dengan baik.
Pesan tersebut disampaikan dalam acara Public Expose and Annual Report Bimas Islam 2025 di Jakarta, Senin (8/11/2025).
“Agama itu seperti pisau bermata dua. Kalau kita mampu memanfaatkan dengan baik, maka agama itu insya Allah akan bisa menciptakan suatu bangsa yang besar, memberikan motivasi religi untuk merdeka seperti Indonesia.” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, agama dapat menjadi faktor pemersatu yang kuat.
“Jadi agama itu bisa menjadi faktor pemersatu yang dahsyat. Komando Allahu Akbar-nya di Surabaya, mampu membuat ketar ketir penjajah,” imbuhnya.
Maka dari itu, Nasaruddin mengingatkan, bahwa agama harus difungsikan sebagai energi penguat kebangsaan.
“Semakin bersahabat manusia terhadap agamanya, maka kontribusinya bukan hanya perbaikan individu, stabilitas emosi, tapi juga keluarga masyarakat dan badannya juga adalah negara dan alam semesta. Tapi sebaliknya kalau agama itu gagal untuk kita manaje dengan baik, ya itu juga bisa menjadi pemerang yang sangat berbahaya. Agama itu seperti pisau bermata dua,” katanya.
Nasaruddin juga menyoroti pentingnya manajemen keagamaan sebagai inti tugas Kementerian Agama, terutama ketika banyak urusan keagamaan kini bersifat mandiri. Karena itu, pembimbingan keagamaan harus tetap menjadi roh utama kementerian.
“Makanya itu rohnya kementerian agama yang paling vital adalah pembimbingan masyarakat Islam ini. Tanpa menampilkan usaha pendidikan dan yang lain-lain. Karena itu, Bapak sekalian tantangan kita bagaimana menjadikan agama ini sebagai faktor sentripetal, bukan sebagai faktor sentrifugal,” pungkasnya.
