Natalius Pigai sebut HAM adalah Aset Termahal Indonesia dan Dunia

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai saat berpidato pada puncak peringatan Hari HAM Sedunia ke-77 di Tenis Indoor, Jakarta Pusat, Rabu (10/11) malam/Foto Fifi Abdurahman Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai saat berpidato pada puncak peringatan Hari HAM Sedunia ke-77 di Tenis Indoor, Jakarta Pusat, Rabu (10/11) malam/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan bahwa hak asasi manusia merupakan aset paling berharga, baik bagi Indonesia maupun dunia. 

Pernyataan itu ia sampaikan dalam pidato pada puncak peringatan Hari HAM Sedunia ke-77 di Tenis Indoor, Jakarta Pusat, Rabu (10/11) malam.

“Hak asasi manusia itu adalah aset, intangible assets (aset takberwujud) termahal di planet ini. Salah satu aset paling termahal di dunia, itu adalah hak asasi manusia,” ujar Natalius.

Natalius menceritakan pengalamannya saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB di New York. 

Menurutnya, perhatian dunia tertuju pada para pemimpin yang hadir, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese serta sejumlah pemimpin dari Amerika Latin, Amerika Utara, Afrika, Asia, dan Eropa. Dalam forum itu, banyak negara menyuarakan penderitaan bangsa Palestina sebagai jeritan kemanusiaan.

Ia menekankan bahwa hak asasi manusia mampu menembus batas suku, agama, ras, dan golongan. Bahkan, meski sebagian umat Nasrani menempatkan Israel sebagai imperium dominan, banyak pemimpin Nasrani justru mendukung Palestina semata karena alasan kemanusiaan.

“Saya katolik. Saya dilahirkan melawan Israel itu, sama dengan masuk neraka. Tapi saya hadir tepuk tangan pertama ketika Presiden Prabowo pidato menyatakan dukungan kepada bangsa Palestina. Hanya karena human right,” tegasnya.

Oleh karena itu, Natalius kembali menegaskan bahwa hak asasi manusia sebagai aset termahal yang kini dipersembahkan oleh Presiden Prabowo Subianto bagi bangsa Indonesia dalam masa kepemimpinannya.

“Membentuk kemimpinan hak asasi manusia adalah legasi besar dan tonggak sejarah sebagai sumber pusat perlengkapan peradaban bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermartaban hak asasi manusia. Bagi Presiden, sudah selesai. Presiden, segalanya punya,” katanya.

“Tapi dia berikan persembahan kepada anak cucu yang akan lahir di seantero nusantara seluruh rakyat Indonesia dan bangsa hari ini untuk masa yang akan datang,” pungaks Natalius.