Konservasi Elang Jawa Butuh Kolaborasi Multipihak

Jakarta, Gpriority co.id – Upaya pelestarian Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), satwa endemik kharismatik Indonesia, memasuki usia tiga dekade dengan semangat baru. Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohhat Marzuki menekankan pentingnya kolaborasi multipihak untuk menjaga populasi elang ini, yang saat ini hanya tersisa 600-700 individu di habitat alamnya yang terbatas di Pulau Jawa.

“Elang Jawa bukan hanya simbol kebanggaan, tapi juga indikator kesehatan ekosistem hutan Jawa. Kita harus pastikan habitatnya lestari agar populasinya bisa pulih dan meningkat,” ujar Wamenhut Marzuki dalam peringatan 30 tahun konservasi di Jakarta, Sabtu (13/12). Ia menyoroti bahwa ancaman seperti deforestasi dan konflik manusia-satwa terus menggerus keberadaan spesies ini, yang masuk kategori Rentan Punah menurut IUCN.

Untuk memperkuat perlindungan, pemerintah sedang memproses usulan kawasan konservasi baru di berbagai wilayah Jawa. “Ini komitmen konkret kami untuk lindungi habitat terakhir Elang Jawa dengan status hukum yang lebih tegas, termasuk penetapan zona inti yang tak terganggu,” tambahnya. Selain itu, pemerintah berencana susun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa periode 2026-2035, serta tingkatkan penilaian Daftar Merah Nasional untuk pantau risiko kepunahan secara berkala.

Wamenhut menegaskan, konservasi tak bisa dilakukan pemerintah sendirian. “Dukungan dari akademisi, LSM seperti Burung Indonesia dan Raptor Indonesia, serta swasta seperti PT Djarum sangat krusial. Mereka sudah beri kontribusi nyata melalui program pemantauan dan restorasi habitat,” tegasnya. Ke depan, peningkatan nilai Red List Index akan jadi ukuran sukses tahunan, menunjukkan penurunan risiko kepunahan secara bertahap.

Marzuki menutup acara dengan pesan inspiratif: “Pelestarian satwa seperti Elang Jawa adalah investasi untuk masa depan bangsa. Mari jaga biodiversitas Indonesia lintas generasi, agar anak cucu kita masih bisa saksikan keagungan elang ini melayang di langit Jawa.” Peringatan ini diharap jadi momentum baru bagi konservasi nasional, dengan target populasi stabil dalam dekade mendatang.

Foto : Kemenhut