Bandung, Gpriority.co.id – TNI AU melalui Lanud Sulaiman dan Lanud Husein Sastranegara serta Pemkab Bandung telah menggelar operasi aeroseeding pada 31 Januari 2026 untuk menangani lahan kritis di Kabupaten Bandung. Apa itu aeroseeding, bagaimana proses dan efektifitasnya?
Dilansir laman facebook TNI AU disebutkan jika terdapat kolaborasi Lanud Sulaiman, Lanud Husein Sastranegara, dan Pemkab Bandung menebar 8 ton benih pohon (setara 52 juta biji tanaman keras dan buah-buahan) menggunakan pesawat CASA C-212 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh Malang. Target lokasi mencakup Desa Wargaluyu (123 Ha), Tarumajaya (137 Ha), dan Girimulya (478 Ha) di perbatasan Kabupaten Bandung dengan Garut, Cianjur, dan Sumedang.
Operasi tersebut dipimpin Danlanud Sulaiman Marsma TNI Eko Sujatmiko. Operasi bertujuan menyerap air, mencegah erosi, banjir, dan longsor di lahan sulit dijangkau darat. Bupati Dadang Supriatna (Kang DS) ikut take off dari Lanud Husein Sastranegara tanpa dana APBD, didukung Forkopimda dan siswa sekolah.
Aeroseeding bukanlah hal yang baru dilakukan di dunia maupun di Indonesia. Aeroseeding merupakan teknik revegetasi lingkungan dengan menyebarkan benih tanaman melalui udara menggunakan pesawat, ideal untuk lahan luas atau sulit dijangkau darat seperti pegunungan.
Manfaat aeroseeding diantaranya efisiensi waktu dan tenaga. Aeroseeding mampu menabur jutaan benih secara merata dalam waktu singkat, menghemat biaya dibanding metode manual. Manfaat selanjutnya ialah memulihkan ekosistem dengan cepat. Aeroseeding terbukti mampu mengatasi lahan kritis pasca-kebakaran hutan, erosi, atau degradasi, seperti di Gunung Arjuno-Welirang. Manfaat terakhir ialah mampu memberikan perlindungan lingkungan. Hal ini karena tanaman hasil aeroseeding dapat meningkatkan penyerapan air, mencegah longsor, banjir, dan banjir bandang saat musim hujan.
Di tanah air, aeroseeding telah dilakukan di Gunung Arjuno Welirang, Jatim pada 2019 pasca-El Nino, dengan menyasar 3.000 Ha lahan. Vegetasi hijau tumbuh efektif dalam 1-2 tahun di kawasan tersebut. Kemudian pada 2020, ratusan kilogram benih juga ditabur oleh Perhutani dengan CASA C-212 TNI AU dari Lanud Abdulrachman Saleh pada 2020. Lalu pada 2024 Tahura R. Soeryo, Batu juga melakukan pemulihan pasca-karhutla 2023 dengan aeroseeding Januari 2024.
Biasanya bibit tanaman yang kerap disebar dalam aeroseeding ialah mencakup tanaman kayu keras, pionir cepat tumbuh, dan buah-buahan lokal yang tahan kondisi lahan kritis. Tanaman seperti mahoni, sengon, trembesi, suren, akasia hingga tanaman buah seperti durian, nangka, alpukat, jambu sampai mangga biasa digunakan dalam aeroseeding. Namun tetap, pemilihannya disesuaikan dengan iklim lokal.
Aeroseeding di Indonesia dikenal efisien secara biaya karena sering tanpa dana APBD, memanfaatkan CSR, sumbangan masyarakat, dan kolaborasi TNI AU. Sementara di luar negeri kerap melibatkan NGO dan industri secara massif. China, Australia hingga Kanada ialah negara yang kerap menerapkan aeroseeding. Negara-negara tersebut malah sudah menggunakan teknologi drone dalam aeroseeding.
Ditengah ancaman bencana longsor yang mengintai tanah air, penerapan aeroseeding pantas diterapkan sebagai bentuk pencegahan.
Foto : TNI AU
