China, GPriority.co.id – Harapan baru dalam dunia medis datang dari para ilmuwan di China yang berhasil mengembangkan perangkat portabel untuk mendeteksi kanker hanya melalui satu tetes darah.
Teknologi tersebut diklaim memiliki tingkat sensitivitas hingga 10.000 kali lebih tinggi dibanding metode konvensional dalam mendeteksi biomarker kanker tahap awal.
Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Wen Liaoyong dari Westlake University, Hangzhou, dan telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Photonics.
Dilansir dari laporan South China Morning Post, tim peneliti berhasil mengecilkan sistem deteksi biomarker yang sebelumnya berukuran sebesar lemari pendingin menjadi perangkat kecil yang dapat digenggam tangan.
Perangkat tersebut bekerja menggunakan teknologi biosensor nanofotonik yang mampu mengenali biomarker kanker dalam jumlah sangat kecil di aliran darah.
Dengan teknologi ini, proses skrining kanker dini berpotensi menjadi lebih cepat, murah, dan mudah diakses masyarakat luas, termasuk di daerah terpencil.
Tingkat akurasi alat ini disebut mencapai 94,9 persen dalam mendeteksi biomarker kanker paru stadium awal.
Dalam publikasi ilmiahnya, Wen menyebut teknologi ini dirancang untuk mendukung pemeriksaan medis di klinik, rumah sakit, hingga penggunaan rumahan.
Inovasi tersebut juga dinilai dapat menjadi langkah besar dalam pengembangan metode “liquid biopsy” atau biopsi cair, yakni pemeriksaan kanker tanpa prosedur operasi invasif.
Para ahli kesehatan menilai deteksi dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker.
Selama ini, banyak kasus kanker baru diketahui ketika sudah memasuki stadium lanjut karena keterbatasan alat skrining cepat dan biaya pemeriksaan yang tinggi. Kehadiran perangkat portabel ini membuka peluang revolusi dalam sistem diagnosis medis modern.
Meski menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa teknologi tersebut masih membutuhkan uji klinis lanjutan sebelum dapat digunakan secara massal.
Beberapa pakar juga mengingatkan bahwa tes darah pendeteksi kanker tetap harus didukung pemeriksaan medis lain guna mengurangi risiko hasil positif palsu atau salah diagnosis.
Jika pengembangan berjalan lancar, perangkat ini berpotensi menjadi solusi skrining kanker murah dan praktis di masa depan.
Teknologi tersebut juga dapat membantu negara berkembang meningkatkan akses deteksi kanker dini tanpa memerlukan laboratorium besar atau alat medis mahal.
