Jakarta, GPriority.co.id – Sempat saling mendukung, kini hubungan Amerika Serikat dan Israel dikabarkan memburuk. Kedua negara tersebut kini dilaporkan putus komunikasi.
Hal ini terjadi usai Presiden AS Donald Trump, dilaporkan memutus komunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dilansir dari laporan media Israel, Trump merasa dimanipulasi oleh Netanyahu. Ia juga geram setelah orang-orang terdekatnya memberi tahu bahwa ia serasa dimanfaatkan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel semakin diperparah dengan sikap arogan Menteri Strategis Israel, Ron Dermer. Melalui percakapan terakhir dengan sejumlah tokoh Partai Republik, Dermer memperkuat kesan negatif terhadap Israel.
Namun, di tengah perseteruan tersebut Trump dikabarkan tengah menyiapkan draf kesepakatan gencatan senjata untuk mengakhiri perang di Gaza, kendati isinya tidak sepenuhnya sejalan dengan tuntutan yang diberikan Israel.
Adapun rencana tersebut mencakup peran besar Amerika Serikat dalam rekonstruksi Gaza dan kemungkinan keterlibatan Hamas dalam administrasi sipil Gaza. Hal ini sontak membuat Israel khawatir akan dipaksa menerima keputusan sepihak atau fait accompli.
Perdamaian Amerika Serikat dan Israel pun kian menipis setelah Israel menyetujui rencana serangan skala penuh, dan berpotensi mengarah pada pendudukan permanen yang menyulitkan Trump untuk memenuhi janji perdamaian sebelum pelantikan, jika terpilih kembali.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel dikenal sebagai dua negara yang berhubungan erat. Bahkan Trump sempat mengeluarkan kebijakan yang menyebut bagi siapapun yang pernah mengkritik Israel media sosial, maka akan dilarang masuk ke Amerika Serikat.
Dalam mendukung kebijakan Trump tersebut, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengeluarkan instruksi kepada petugas konsuler untuk memeriksa media sosial para pemohon visa, terutama bagi pelajar dan peserta program pertukaran. Hal tersebut guna menyaring mereka yang menunjukkan dukungan terhadap Palestina atau mengkritik Amerika Serikat dan Israel.
Sebagai informasi, arahan ini dikeluarkan pada 25 Maret lalu melalui kabel diplomatik, yang mengatakan jika visa dapat ditolak apabila aktivitas daring pemohon dianggap menunjukkan sikap bermusuhan terhadap budaya atau warga AS.
Editor: Novita Intan
Foto : Dok. AFP News/Getty Images
