Jakarta, GPriority.co.id – Angka pernikahan di Indonesia kian menurun. Kabarnya, salah satu penyebabnya ialah karena kurangnya pria mapan.
Sebagai informasi persentase angka pernikahan di Indonesia berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, mengalami penurunan menjadi 1.577.255.
Angka tersebut turun sebanyak 128.093 dari tahun sebelumnya, dan menjadi yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir.
Meskipun demikian, angka perceraian juga menurun, dengan hanya 463.654 kasus dibandingkan 516.344 pada tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa angka pernikahan di Indonesia dalam satu dekade terakhir menurun sebanyak 28,63%.
Menyoroti hal tersebut, Prof. Dr. Bagong Suyanto dari Universitas Airlangga, penurunan ini disebabkan oleh perempuan yang semakin mandiri karena akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan pekerjaan, serta kurangnya pria yang mapan secara ekonomi.
“Angka pernikahan turun karena kesempatan perempuan untuk sekolah dan bekerja semakin terbuka lebar. Disamping itu ketergantungan perempuan juga menurun,” jelasnya seperti dikutip dari laman RRI.
Lebih lanjut, tingkat kemapanan laki-laki di Indonesia juga menjadi sorotan dalam penurunan angka pernikahan tersebut, menurutnya.
“Keberadaan laki-laki mapan juga makin berkurang karena sekarang mencari pekerjaan semakin sulit,” tutur Prof. Bagong.
Dengan berkurangnya angka pernikahan di Indonesia, hal ini juga dapat menyebabkan angka kelahiran menurun.
Alih-alih menimbulkan sebuah kekhawatiran, Prof. Bagong menilai fakta ini merupakan sesuatu yang wajar. Justru dapat memberikan kesempatan untuk wanita agar lebih berdaya.
“Menurunnya angka pernikahan itu wajar. Tidak ada yang harus diperbaiki. Tapi yang penting memastikan hal ini berdampak positif untuk memberdayakan perempuan dan masyarakat,” tegasnya.
Namun, Prof. Bagong juga menekankan bahwa angka pernikahan harus diiringi dengan peningkatan modal sosial masyarakat.
Penyebab Penurunan Angka Pernikahan di Indonesia
Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya angka pernikahan di Indonesia, antara lain seperti meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Terlebih, saat ini begitu mudahnya pelaku KDRT untuk bersuara melalui media sosial dan menjadi viral.

Kedua, pola pikir generasi muda juga semakin kritis seiring perkembangan zaman.
Namun negatifnya, mereka dapat lebih mudah menyimpulkan segala hal. Termasuk sisi negatif pernikahan yang belakangan disebut sebagai ‘Marriage is Scary’.
Selanjutnya, generasi muda Indonesia juga memilih menunda pernikahan karena pergeseran stigma, bahwa pernikahan tidak lagi masuk daftar pencapaian pribadi.
Foto : Ilustrasi / Freepik
