Jakarta, GPriority.co.id – Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, memproyeksikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Gorontalo tahun 2026 mengalami penyusutan sebesar Rp200 miliar. Dari Rp1,74 triliun pada 2025, anggaran diperkirakan hanya sebesar Rp1,54 triliun.
Penyusutan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat, termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK) yang hanya sekitar Rp200 miliar dan seluruhnya dialokasikan untuk sektor kesehatan.
“Ketika APBD kita kurang atau tidak mencukupi, pikiran kita akan lari kepada meningkatkan upaya pendapatan dalam daerah,terutama dari pajak dan lain-lain. Akan tetapi, saya dengan tegas menyatakan bahwa kondisi masyarakat kita belum memungkinkan untuk kita meningkatkan pendapatan yang bersumber dari masyarakat,” ujar Gusnar dikutip, Rabu (10/9).
Dari total pendapatan yang diproyeksikan, Pemprov Gorontalo mengantisipasi defisit anggaran sebesar Rp206,32 juta. Untuk menutupi defisit tersebut, pembiayaan daerah direncanakan sebesar Rp17,14 miliar untuk penerimaan dan Rp16,93 miliar untuk pengeluaran, sebagian besar digunakan untuk pembayaran cicilan pokok utang Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021.
Meski begitu, Pemprov tetap mempertahankan lima program unggulan yakni beasiswa, agromaritim, UMKM, pariwisata, dan infrastruktur. Namun, pada sektor infrastruktur, fokus diarahkan pada pemeliharaan jalan tanpa peningkatan kualitas karena keterbatasan dana.
:Setiap OPD diwajibkan membawa kegiatan nasional yang dibuat oleh kementerian untuk digelar di Gorontalo agar daerah tetap hidup dan perekonomian berjalan,” tambah Gusnar.
Gubernur Gusnar juga menyoroti tingginya belanja pegawai yang mencapai 45 persen dari total APBD, jauh di atas rekomendasi Kementerian Dalam Negeri sebesar 30 persen. Untuk itu, Pemprov tengah mengkaji efisiensi, termasuk kemungkinan penerapan skema Work From Home (WFH) guna menghemat biaya operasional.
