Baru Usia 20-an Sudah Kena Asam Urat? Ini Kebiasaan Sepele yang Jadi Pemicunya

Ilustrasi asam urat di usia 20-30an/Foto : Dok. Istimewa Ilustrasi asam urat di usia 20-30an/Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Kasus asam urat kini tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hiperurisemia, yaitu kondisi kadar asam urat dalam darah yang tinggi, semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, termasuk 20–30 tahun.

Para ahli menilai perubahan gaya hidup menjadi faktor utama di balik fenomena tersebut, bahkan beberapa kebiasaan yang tampak sepele justru dapat meningkatkan risiko penyakit ini.

Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Mayo Clinic, asam urat terjadi ketika kadar asam urat menumpuk di dalam darah hingga membentuk kristal pada persendian yang memicu nyeri hebat, bengkak, dan kemerahan. Kondisi ini dapat dipengaruhi pola makan, berat badan, konsumsi alkohol, hingga penyakit tertentu.

Salah satu kebiasaan yang paling sering tidak disadari adalah terlalu sering mengonsumsi minuman manis, terutama yang mengandung sirup jagung tinggi fruktosa (high-fructose corn syrup). Menurut Mayo Clinic, fruktosa dapat meningkatkan produksi asam urat sehingga memperbesar risiko hiperurisemia.

“Minuman yang dimaniskan dengan gula buah (fruktosa) meningkatkan kadar asam urat dan risiko terkena gout,” jelas Mayo Clinic.

Selain itu, kebiasaan sering begadang dan kurang tidur juga dikaitkan dengan peningkatan peradangan serta gangguan metabolisme yang dapat memperburuk kadar asam urat.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Arthritis Care & Research menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan meningkatnya risiko serangan gout pada penderita hiperurisemia.

Kebiasaan lain yang sering dianggap sepele adalah jarang minum air putih. Kekurangan cairan membuat ginjal tidak bekerja optimal dalam membuang asam urat melalui urine sehingga kadarnya dalam darah meningkat.

Sementara itu, CDC mengingatkan bahwa berat badan berlebih atau obesitas juga menjadi faktor risiko penting.

“Menurunkan berat badan dapat membantu menurunkan kadar asam urat dan mengurangi jumlah serangan gout,” tulis CDC dalam panduan resminya.

Tak hanya itu, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi purin secara berlebihan seperti jeroan, daging merah, makanan laut tertentu (sarden, teri, kerang), serta minuman beralkohol juga berkontribusi terhadap peningkatan kadar asam urat.

Meski begitu, American College of Rheumatology (ACR) menegaskan bahwa asam urat bukan semata-mata disebabkan oleh makanan. Faktor genetik, gangguan fungsi ginjal, penggunaan obat tertentu, hingga sindrom metabolik juga berperan dalam memicu hiperurisemia.

Gejala asam urat (gout) pada usia 20–30 tahun pada dasarnya sama seperti pada usia yang lebih tua. Bedanya, karena masih muda, banyak orang mengira nyeri sendi tersebut hanya akibat olahraga, keseleo, atau kelelahan sehingga terlambat memeriksakan diri.

Berikut ciri-ciri yang paling umum menurut Mayo Clinic, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan American College of Rheumatology (ACR) :

1. Nyeri sendi datang tiba-tiba
2. Sendi membengkak dan terasa panas
3. Jempol kaki sering menjadi sasaran
4. Sulit menggerakkan sendi
5. Nyeri hilang, lalu kambung lagi
6. Benjolan keras di sekitar jari tangan, siku, lutut, dan telinga.

Para ahli menyarankan masyarakat, khususnya usia 20–30 tahun, mulai menerapkan gaya hidup sehat dengan membatasi konsumsi minuman manis, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mencukupi kebutuhan air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Langkah sederhana tersebut dinilai efektif membantu menjaga kadar asam urat tetap normal sekaligus menurunkan risiko terkena gout di usia muda.