Bertambah! Korban Tewas Bencana Sumatra Capai 1.177

Evakuasi korban meninggal. Foto: istimewa Evakuasi korban meninggal. Foto: istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra mencapai 1.177 orang pada Minggu (4/1).

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB Abdul Muhari menyampaikan, angka tersebut meningkat 10 jiwa dibandingkan data sebelumnya.

“Tambahan korban jiwa meninggal dunia ini menambah jumlah total dari tiga provinsi. Kemarin, rekapitulasi kita di cut off pukul 16.00 WIB adalah 1.167 jiwa, dan hari ini bertambah 10 menjadi 1.177 jiwa yang meninggal dunia,” ujar Abdul Muhari dalam konferensi pers, Minggu (4/1).

Menurut dia, penambahan korban meninggal dunia berasal dari beberapa wilayah, yakni Aceh Utara sebanyak 3 jiwa, Kabupaten Tapanuli Selatan 5 jiwa, serta Sumatra Barat 2 jiwa.

Di sisi lain, proses pencarian korban hilang menunjukkan perkembangan. Tim SAR gabungan berhasil menemukan sejumlah warga yang sebelumnya dilaporkan hilang.

“Hari ini ada pengurangan 17 nama untuk daftar orang hilang yang dikoreksi oleh desa, kecamatan, maupun anggota keluarga. Sehingga, jumlah total rekapitulasi nama korban yang masih dalam daftar pencarian tim SAR gabungan itu 148 jiwa,” kata Abdul Muhari.

BNPB juga mencatat dampak bencana terhadap masyarakat masih sangat besar. Hingga saat ini, jumlah pengungsi akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi terdampak mencapai 242.174 jiwa.

Terkait status kebencanaan, Abdul Muhari menjelaskan bahwa sejumlah daerah masih memperpanjang masa tanggap darurat. Di Provinsi Aceh, terdapat 10 daerah yang memperpanjang status tanggap darurat, dengan delapan daerah di antaranya telah memasuki fase transisi darurat.

Sementara itu, kondisi di Sumatra Utara dinyatakan lebih terkendali. “Di Sumatra Utara ini transisi darurat 14 daerah, tanggap darurat berakhir di dua daerah dan tidak diperpanjang. Jadi, saat ini di Sumatra Utara sudah tidak ada kabupaten/kota dengan status tanggap darurat. Provinsi Sumatra Utara saat ini sudah dalam status transisi darurat,” ujar dia.

Adapun di Sumatra Barat, status tanggap darurat masih diberlakukan di Kabupaten Agam. Kebijakan tersebut diambil karena masih terdapat potensi longsor susulan akibat rekahan tanah di sejumlah titik.

“Selain Kabupaten Agam, di Sumatra Barat sudah tidak ada kabupaten/kota yang dalam status tanggap darurat. Jadi, semuanya saat ini sudah dalam transisi darurat. Ada tanggap darurat yang berakhir dan ini tidak diperpanjang,” kata Abdul Muhari.