Bukan Cuma Hadapi Serangan Brutal, Palestina Juga Alami 3 Jenis Kejahatan Perang

Dr. Mustafa Al-Bargouti (tengah) selaku President of Palestinian National Inisiative, melaporkan kondisi konflik Israel-Palestina terkini saat menyambangi Jakarta pada Selasa (2/9)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Dr. Mustafa Al-Bargouti (tengah) selaku President of Palestinian National Inisiative, melaporkan kondisi konflik Israel-Palestina terkini saat menyambangi Jakarta pada Selasa (2/9)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia menjadi salah satu negara yang mendorong kemerdekaan Palestina hingga saat ini. Bersama negara-negara besar lainnya, Indonesia mempelopori gerakan ini.

Gerakan ini tentu terus didorong, terlebih diungkapkan oleh Dr. Mustafa Al-Bargouti selaku President of Palestinian National Inisiative, sampai saat ini bukan cuma menghadapi serangan brutal, namun Palestina juga mengalami 3 jenis kejahatan perang.

“Pertama adalah kejahatan genosida, yang kedua adalah kejahatan hukuman kolektif kepada rakyat yang tidak bersalah terutama dalam hal pelaparan rakyat Gaza, dan yang ketiga kejahatan pembersihan etnis,” ungkap Bargouti di Jakarta pada Selasa (2/9).

Menurutnya, hingga saat ini sebanyak 140.000 ton bom dan sejenisnya telah ditumpahkan oleh Israel ke wilayah kecil seperti Gaza. Ini artinya, setiap orang di Palestina menerima 66 kilogram bom yang menghancurkan hidup mereka.

“Kekuatan yang sangat menghancurkan ini sama dengan jumlah 8 kali bom atom yang dilontarkan oleh sekutu dalam Perang Dunia II yang menghancurkan kota Nagasaki dan Hiroshima,” lanjutnya.

Menurut statistik, Bargouti mengatakan jika lebih dari 160.000 warga Gaza yang mengalami luka-luka berat, sementara 61.000 sakit, dan 20.000 anak-anak dibantai serta menjadi korban kekejaman hingga saat ini. Bahkan setiap 12 detik, banyak sekali anak-anak Palestina yang menjadi korban keganasan Israel.

Terlebih lagi bagi yang mengalami luka-luka berat tidak ada pengobatan yang memadai karena 24 persen dari seluruh total rumah sakit dan pelayanan kesehatan medis di Gaza sudah dihancurkan.

“Saat ini sudah lebih dari 1590 tenaga medis yang menjadi korban keganasan Israel. Ada kurang lebih 2316 keluarga yang seluruh anggotanya meninggal dunia. 70 persen korban saat ini adalah dari anak-anak, kamu perempuan, dan orang tua,” lapornya.

Selama perang berlangsung, 450 bayi yang baru lahir kemudian wafat. Bukan hanya karena serangan Israel, tetapi juga karena mengalami malnutrisi dan tidak mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai.

Sementara untuk profesi wartawan yang harusnya dilindungi untuk meliput konflik atau peperangan Israel-Palestina, justru sampai saat ini menjadi target besar serangan Israel. Banyak wartawan yang ditembak, dibunuh, dan dilarang mendekati area peperangan. Padahal, keselamatan wartawan dijamin oleh hukum internasional.

“Sudah ada 218 wartawan baik media-media Timur Tengah dan internasional yang bekerja di Gaza itu terbunuh. Mereka menjadi korban. Tujuan Israel dari tindakan ini ialah untuk menghalangi masyarakat internasional mengetahui realitas yang sebenarnya terjadi di lapangan,” pungkasnya.