Jakarta, GPriority.co.id – Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) sekaligus Bupati Morowali Utara, Delis Julkarson Hehi, resmi membuka Implementasi dan Tindak Lanjut Pusat Promosi Investasi Daerah (PPID) Batch 2 di Batam, Jumat (17/4).
Program ini menjadi langkah strategis daerah dalam merespons pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) sekaligus memutus praktik perantara atau “calo” investasi yang selama ini dinilai menghambat arus modal ke daerah.
PPID hadir sebagai konsep one-stop solution atau “Mall Pelayanan Investasi” pertama di Indonesia, yang mempertemukan investor global dengan potensi dari 514 kabupaten/kota dalam satu lokasi terintegrasi.
Dalam sambutannya, Delis menegaskan bahwa kemandirian fiskal kini menjadi keharusan bagi daerah.
“Transfer dana daerah hari ini dipangkas cukup besar. Dari 350 triliun, kemudian dipangkas lagi menjadi 285 triliun. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, daerah harus kreatif menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru melalui investasi,” ujar Delis Julkarson Hehi.
Ia juga menyoroti praktik perantara yang kerap menghambat komunikasi langsung antara investor dan pemerintah daerah.
“Saya punya pengalaman sendiri. Ada investor dari Cina yang ingin bertemu saya selama dua tahun, tapi hanya diputar-putar oleh calo. Baru ketemu saya di Hotel Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Padahal daerah kita butuh akses langsung, tanpa perantara,” ceritanya.
Menurutnya, PPID merupakan hasil diskusi panjang antara APKASI dan International Business Association untuk menciptakan solusi permanen dalam promosi investasi daerah.
Melalui PPID, investor tidak perlu lagi berkeliling dari Sabang hingga Merauke. Seluruh potensi daerah telah dikurasi dan diklaster secara profesional dalam satu platform, mulai dari sektor pertambangan, perkebunan, hingga pertanian.
“PPID ini seperti dashboard investasi nasional. Investor yang ingin tahu lahan perkebunan 100 ribu hektare atau potensi tambang di daerah tertentu, semuanya tersaji di satu tempat. Ini warisan kita untuk daerah,” tegasnya.
Pemilihan Batam sebagai lokasi PPID dinilai strategis karena kedekatannya dengan pusat bisnis regional.
“Batam hanya selangkah dari Singapura. Ada 7.000 perusahaan multinasional berkantor di Singapura, 84 di antaranya memiliki kantor cabang di sana. Dengan naik ferry, mereka bisa langsung mengenal seluruh potensi Indonesia. Ini peluang emas,” paparnya.
PPID juga akan rutin menggelar berbagai agenda seperti business matching, turnamen golf, hingga pertemuan langsung antara kepala daerah dan investor dari Singapura, China, dan Hong Kong, dengan biaya yang jauh lebih efisien dibandingkan pameran konvensional.
Chairman IBA, Shan Shan, menegaskan bahwa program ini sudah masuk tahap implementasi.
“Kami tidak lagi bicara konsep, tapi eksekusi. Hari ini langsung ada business matching dengan investor China dan Hong Kong. Sebagian besar bupati sudah mengamankan slot kantor perwakilan di PPID,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif APKASI Sarman Simanjorang menawarkan skema pemanfaatan lahan tidur melalui Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), termasuk pengembangan PLTS dan kawasan komersial terpadu.
Dukungan sektor perbankan juga menguatkan implementasi program ini, dengan kesiapan pembiayaan dari Bank BTN untuk mempercepat pembangunan infrastruktur investasi di daerah.
Delis turut mencontohkan keberhasilan Morowali Utara yang mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi nasional dalam dua tahun terakhir.
“Investasi yang masuk tidak hanya menambah PAD, tapi juga membuka lapangan kerja, mendorong efek multiplier ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
PPID Batch 2 diharapkan menjadi terobosan nasional dalam mendekatkan investor dengan potensi daerah, sekaligus memperkuat kemandirian fiskal dan daya saing pembangunan daerah di Indonesia.
