Dari Kawan Jadi Lawan, Elon Musk Bongkar Rahasia Donald Trump

Dari Kawan Jadi Lawan, Elon Musk Bongkar Rahasia Donald Trump Dari Kawan Jadi Lawan, Elon Musk Bongkar Rahasia Donald Trump

Jakarta, GPriority.co.id – Kabar mengejutkan datang dari pemerintahan AS (Amerika Serikat). Jika dahulu Elon Musk mendukung Donald Trump, kini justru berbalik arah dan membongkar rahasia dari petinggi AS tersebut.

Melalui sebuah cuitan pada akun X resminya, Elon Musk mengatakan jika nama Donald Trump tercantum pada berkas rahasia terkait Jeffrey Epstein.

Jika anda belum mengetahuinya, Jeffrey Epstein merupakan pengusaha terkenal di AS yang meninggal akibat bunuh diri di penjara pada 2019 silam. Dirinya didakwa atas kasus kejahatan perdagangan seks.

Tak sampai disitu, Elon juga mengatakan jika nama Trump juga tercantum dalam dokumen pemerintah, namun dirinya tak menyebut jenis dokumen tersebut secara spesifik, atau bahkan memberi bukti.

Merespon tindakan Elon, pihak Gedung Putih menilai jika tindakan pemilik Tesla tersebut sebagai hal yang tidak ada untungnya. Hingga kini, belum ada konfirmasi secara resmi terkait keterlibatan Trump pada kasus Epstein. Namun, rekam jejak menunjukkan jika Trump pernah menghadiri beberapa agenda acara bersama Epstein di tahun 1990-an.

Sebelumnya, pemerintah Trump mengaku bersedia membuka dokumen Epstein. Pemerintah AS juga telah merilis ribuan halaman dokumen terkait kasus lain, salah satunya peristiwa pembunuhan John F. Kennedy (JFK). Namun untuk berkas Epstein, informasinya masih terbatas.

Trump secara tegas membantah pernah mengunjungi pulau pribadi milik Epstein di Kepulauan Virgin AS. Sementara, PolitiFact mengungkapkan jika tidak ada bukti langsung mengenai hal itu, kendati Trump diketahui pernah terbang menggunakan jet milik Epstein.

Kini, dari ribuan halaman dokumen yang telah dirilis, belum menunjukkan bukti kuat soal keterlibatan tokoh-tokoh ternama dalam kejahatan yang dilakukan Epstein di masa lampau. Salah satunya soal kasus yang diajukan oleh korban bernama Virginia Giuffre.

Perlu diketahui, sebeumnya Elon ditunjuk Trump sebagai pimpinan Departemen Efisiensi pada pemerintahannya. Elon dipercaya dapat membantu membuat pemerintahan AS berjalan lebih efisien.

Bahkan pada masa kampanye Trump, Elon dilaporkan menyumbang lebih dari $119 juta (sekitar Rp1,87 triliun), untuk membantu Trump menang di negara-negara bagian utama.

Namun tak lama menjabat, Elon mundur dari pemerintahan AS. Dari situlah perseteruan Elon dan Trump bermula.

Foto : Dok. AFP