Dari Kolano ke Sultan: Jejak Sejarah Islam di Tanah Tidore

Pemandangan Pulau Ternate, Tidore dan Maitara/Foto iStock

Tidore, GPriority.co.id – Tidore merupakan sebuah pulau yang terletak di Provinsi Maluku Utara. Pulau ini berbatasan dengan Halmahera Barat dan memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah yang kental dengan tradisi Islam.

Di masa lalu, pernah berdiri Kesultanan Tidore yang menjadi salah satu kerajaan Islam besar dan berpengaruh di Indonesia. Pulau Tidore dikenal sebagai pusat kekuasaan kesultanan kuno yang kuat di kawasan timur Nusantara.

Dikutip dari buku Ensiklopedia Kerajaan-Kerajaan Nusantara: Hikayat dan Sejarah (2019) karya Ivan Taniputera, berdasarkan catatan Valentijn-Keyzer, awalnya Kerajaan Tidore berpusat di Pegunungan Batu Cina, di selatan Dodinga. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti kapan pusat kerajaan tersebut dipindahkan ke Pulau Tidore. Diperkirakan, Kerajaan Tidore sudah berdiri sejak abad ke-13.

Sebelum Islam masuk, para raja Tidore menggunakan gelar kolano. Beberapa kolano awal antara lain Kolano Sah Jati, Kolano Bosamuangi, Kolano Bubu, Kolano Balibanga, Kolano Buku Madoya, Kolano Kie Matiti, Kolano Sele, dan Kolano Metagena.

Raja pertama yang memeluk Islam adalah Kolano Nuruddin (1334–1373). Ia kemudian digantikan oleh Hasan Syah, yang juga belum bergelar sultan. Penguasa Tidore pertama yang menggunakan gelar sultan adalah Caliati atau Ciriliati (1495–1512). Atas bimbingan spiritual Syekh Mansur, ia diberi gelar Sultan Jamaluddin.

Berdasarkan buku Ensiklopedia Kesultanan di Nusantara (2022) terbitan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia, sistem kepercayaan masyarakat Tidore awalnya berasal dari keyakinan lokal, lalu berkembang dengan masuknya Islam.

Proses penyebaran Islam di Tidore dimulai dari lingkungan istana, kemudian meluas ke masyarakat. Melalui pengajaran di istana, keluarga kerajaan lebih dahulu memahami ajaran Islam. 

Setelah itu, unsur-unsur hukum Islam mulai diterapkan dalam sistem pemerintahan kesultanan, termasuk yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Hal ini tercermin dalam semboyan kesultanan, “syaraa se kitabullah”, yang berarti berpegang pada Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad.

Dalam struktur pemerintahan, selain ulama yang menjadi penasihat sultan, terdapat lembaga khusus yang mengurus urusan keagamaan, yaitu bobato pehak akhirat. Lembaga ini idealnya dipimpin oleh seorang ulama yang memiliki pengetahuan agama yang mendalam, seperti hafal 30 juz Al-Qur’an dan 500 hadis Nabi.

Selain istana, masjid juga menjadi pusat penting dalam pengembangan ajaran Islam. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan agama. Para ulama secara rutin mengadakan pengajian yang diikuti oleh masyarakat.

Para tokoh agama pada masa itu juga berperan membantu kesultanan dalam menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam, yang lahir di Tidore sekitar tahun 1712. Selain mengajar agama, ia turut terlibat dalam lobi politik tingkat tinggi untuk membantu Kesultanan Tidore yang saat itu menghadapi ancaman dari VOC.