Data BPS: Jumlah Pemuda yang Belum Menikah di Indonesia Makin Meningkat

Data BPS: Jumlah Pemuda yang Belum Menikah di Indonesia Makin Meningkat/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Data BPS: Jumlah Pemuda yang Belum Menikah di Indonesia Makin Meningkat/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Data BPS (Badan Pusat Statistik) mengungkapkan jumlah pemuda yang belum menikah di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya.

Dilansir dari laman resminya, pada tahun 2024 lalu presentase anak muda (rentang usia 16-30 tahun) yang belum menikah sebesar 69,75 persen, meningkat dari tahun 2022 sebesar 64,56 persen dan tahun 2023 sebesar 68,29 persen. Bahkan pada tahun 2020 presentasenya masih di bawah 60 persen (59,82 persen).

Sementara itu, jumlah pemuda yang sudah menikah di Indonesia semakin menurun setiap tahunnya. Dari 2022 sebesar 34,33 persen, menurun menjadi 30,61 persen di tahun 2023 dan menyentuh 20 persen, tepatnya 29,1 persen, pada tahun 2024.

Menurut data dari Indonesia Millenial dan Gen Z Report 2025, ketidakstabilan ekonomi menjadi faktor utama anak muda dalam menunda pernikahan juga memiliki anak. Sementara alasan lainnya diantara lain ingin fokus kepada karier, hidup lebih bebas, masalah kesehatan, hingga fokus edukasi dan pengembangan diri.

Menurut Psikolog Klinis Lynn Octavia, M. Psi., anak muda saat ini tumbuh di era ketidakpastian dan krisis ekonomi. Selain itu, biaya hidup juga melambung tinggi.

Pada akhirnya, mereka memiliki stigma buruk tentang pernikahan, terlebih pada masalah keuangan. Bertebarnya berita perceraian saat ini di kalangan publik figur juga semakin mempengaruhi stigma buruk soal pernikahan.

Begitupun dengan pengaruh media sosial soal gaya hidup tertentu dan membuat anak muda lebih memilih untuk fokus pada pengembangan karir ketimbang menikah. Terlebih dengan isu sulitnya mencari pekerjaan saat ini di tanah air. Sehingga pemikiran untuk menikah muda pun semakin sirna.

Namun fenomena ini ternyata juga terjadi di negara lain seperti Korea Selatan dan China. Menurut data Statistics korea, hanya 27,5 persen wanita muda usia 20-an yang ingin menikah.

Sementara di China, lebih banyak yang memilih lajang karena masalah ekonomi. Ditambah lagi, semakin viralnya jasa sewa pacar juga memperkuat fenomena berkurangnya generasi muda untuk menikah di negara tersebut.