Duta Damai BNPT Tekankan Literasi Digital dalam Menjaga Keamanan Siber

Perwakilan Duta Damai BNPT Indonesia, Josef Christofer Benedict/Foto Istimewa Perwakilan Duta Damai BNPT Indonesia, Josef Christofer Benedict/Foto Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Perwakilan Duta Damai BNPT Indonesia, Josef Christofer Benedict, menyoroti situasi keamanan digital di Indonesia yang dinilainya semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan kehidupan digital sejak era reformasi.

Menurut Josef, pemerintah telah mengambil sejumlah inisiatif sejak 2008–2010 dengan menghadirkan regulasi dan kebijakan yang menaruh perhatian serius pada isu digital.

Namun, ia menilai kebijakan saja tidak cukup untuk menjawab tantangan di lapangan.

“Yang sangat perlu ditekankan adalah pentingnya literasi digital. Jangan hanya mengandalkan kebijakan yang sifatnya top-down, tetapi juga harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga dan sekolah. Pendidikan, pengetahuan, dan kesadaran tidak cukup jika hanya lewat regulasi,” kata Josef kepada Majalah GPriority saat ditemui dalam pertemuan internasional yang digelar oleh Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA), Selasa (16/9).

Ia menegaskan, perhatian terhadap keamanan digital perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan dan kesadaran keluarga.

Setelah itu, barulah dilengkapi dengan kebijakan yang kontekstual dan sesuai dengan realitas masyarakat.

Lebih lanjut, Josef menyinggung kondisi literasi digital di Indonesia saat ini.

Ia menyebut, sejak pandemi, literasi digital memang mendapat perhatian besar dari pemerintah karena menjadi salah satu sarana untuk menunjang pembelajaran jarak jauh. Namun, masih ada ketimpangan yang perlu diatasi.

“Di sejumlah daerah, bukan hanya literasi digital yang belum masuk, tapi juga infrastruktur digitalnya. Karena itu, pembangunan infrastruktur dan literasi digital harus berjalan beriringan agar bisa membentuk ekosistem digital yang lebih baik dan berkeadilan,” katanya.

Josef menambahkan, bahkan di wilayah yang sudah memiliki infrastruktur digital memadai, literasi digital masih terbatas akibat kurangnya kesadaran dari para tokoh maupun lembaga pendidikan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya memasukkan literasi digital ke dalam kurikulum formal pendidikan.

“Sehingga juga sangat penting untuk memasukkan literasi digital dalam kurikulum formal di lembaga pendidikan,” pungkasnya.

Pewarta : Fifi Abdurahman