Pemimpin Muda Asia-Afrika Kumpul di Indonesia Bahas Perdamaian dan Toleransi

Delegasi Cross-Country Learning on Youth, Digital Safety, and Human Rights/Foto Fifi Abdurahman Delegasi Cross-Country Learning on Youth, Digital Safety, and Human Rights/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Pemimpin muda dari tujuh negara, yakni Burundi, Republik Demokratik Kongo (DRC), Indonesia, Irak, Kenya, Nigeria, dan Filipina berkumpul di Indonesia pada 7–17 September 2025.

Mereka hadir sebagai delegasi Cross-Country Learning on Youth, Digital Safety, and Human Rights.

Pertemuan internasional yang digelar oleh Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) ini mengangkat tema “Menghubungkan Pemuda dan Media Kreatif untuk Mengatasi Radikalisasi Daring, Polarisasi, dan Ekstremisme Kekerasan serta untuk Mempromosikan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan.”

Perwakilan Duta Damai dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia, Josef Christofer Benedict, menjelaskan bahwa forum ini membuka pemahaman baru tentang isu perdamaian.

“Acara ini menunjukkan bahwa masalah perdamaian terjadi secara holistik. Negara-negara Asia dan Afrika menghadapi isu serupa, namun di saat bersamaan, setiap negara juga memiliki tantangan yang sangat kontekstual dan spesifik,” ujar Josef kepada Majalah GPriority di Jakarta, Selasa (16/9).

Dia menambahkan, sejak awal kegiatan hingga saat ini, para delegasi terus saling bertukar pandangan, membahas isu-isu terkini, serta merumuskan praktik terbaik (best practice) yang dapat diterapkan di negara masing-masing.

Josef berharap, hasil pertemuan ini dapat menjadi bahan refleksi bagi pemerintah Indonesia.

Menurutnya, intoleransi, radikalisme, dan konflik perdamaian merupakan persoalan mendasar yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Harapannya, pemerintah semakin menyadari bahwa akar masalah intoleransi, radikalisme, dan konflik perdamaian erat kaitannya dengan ketimpangan, kemiskinan, dan faktor struktural lainnya,” ucap Josep.

“Untuk memutus rantai itu, kita perlu menyelami persoalan hingga ke akarnya dan menanganinya dengan pendekatan yang kontekstual serta inklusif,” pungkasnya.

Pewarta : Fifi Abdurahman