Fenomena Bubble Burst, Penyebab Startup Alami Kebangkrutan


Jakarta,GPriority.co.id – Di tahun 2022 ini, sejumlah perusahaan rintisan atau startup di Indonesia banyak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap karyawannya lantaran hampir mengalami kebangkrutan. Beberapa di antaranya adalah LinkAja, Zenius, Fabelio, Tanihub, dan JD.ID.

Salah satu penyebab perusahaan startup mengalami kebangkrutan adalah fenomena ‘Bubble Burst’. Bubble burst adalah istilah yang digunakan oleh para pakar ekonomi untuk menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan nilai pasar naik (inflasi) sangat cepat pada harga aset.

Inflasi yang cepat itu kemudian diikuti dengan penurunan nilai pasar (deflasi) yang cepat juga. Gelembung yang disebabkan lonjakan harga aset tersebut akan memengaruhi pasar. Dengan kata lain, nilai asli suatu aset tidak akan selaras dengan harga aset.

Penyebab perusahaan startup di Indonesia bangkut juga disebabkan oleh kondisi makro-ekonomi selama masa pandemi COVID-19. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini mengatakan, kondisi startup di Indonesia sebelum pandemi dan saat pandemi cukup kontras.

“Sebelum pandemi, para perusahaan ini membesar atau secara instan merekrut banyak karyawan untuk membangun perusahaan. Hilangnya startup ini seperti kunang-kunang, datang sebentar kemudian hilang,” kata Didik dalam wawancaranya dengan salah satu media.

Didik menambahkan bahwa hal ini berbeda dengan perusahaan lain yang cukup ‘settle’ di sektor ekonomi global seperti perusahaan otomotif. Perusahaan otomotif tidak mungkin mengalami kebangkrutan cepat karena dirintis secara perlahan-lahan atau tidak instan dan memiliki server keuangan yang baik.

Di akhir tahun lalu, para investor juga memberikan imbauan kepada para perusahaan startup dengan meminta mereka untuk mengurangi perekrutan karyawan, strategi promosi bakar uang, hingga menetapkan perpanjangan runaway atau umur perusahaan. (Hn.Foto.Istimewa)

Related posts